Minggu, 21 September 2014

Naskah Drama : Lily



http://adrianasari.files.wordpress.com/2011/07/lily.jpg
Ruang kelas yang awalnya hanya berisi kursi dan meja, sekarang diisi oleh siswa-siswi kelas x.1 yang mulai berdatangan.
Alan : Kemarin sungguh membosankan. (ungkap seorang siswa kepada siswa lain) tumben-tumbenan tidak ada event yang menarik di minggu ini. (memainkan bola basket)
Jojo : Bener banget. Biasanya ada acara yang seru gimana gitu. Tapi minggu kemarin benar-benar membosankan. Mungkin tingkat kreatifitas masyarakat kita udah mulai menurun. (dengan nada bicara yang sok tahu)
Jehan : Mengapa bukan kalian saja yang membuat hal baru, lebih baik seperti itukan, daripada menunggu hal yang mungkin tidak akan datang. (sela salah seorang siswa yang baru tiba dan duduk ditengah-tengah dua siswa sebelumnya)
Alan : iya juga sihh.. (mengiyakan)
Jehan : itu artinya kreatifitas kalianlah yang menurun. (dengan nada mengejek)
Alan : apa? (melingkarkan lengannya dileher Jehan)
Jojo : (memukul-pukuli pantat Jehan, sembari tertawa mengejek, #bercanda )
Jehan : hentikan ! (berbicara pelan dengan nada perintah, alhasil kedua temannya menghentikan candaannya)
Alan : (memerhatikan teman sekelasnya yang lain, yang saat ini sibuk mengerjakan tugas masing-masing) apakah ada tugas ? (berjalan menuju bangku seorang teman, dan menyaksikan temannya itu mengerjakan tugas matematika yang belum ia selesaikan pada hari libur kemarin)
Siswi : menurut lohh? (menatap Alan yang bingung, lalu kembali mengerjakan tugasnya sebelum Pak guru datang, dan menghukumnya karena tidak menyelesaikan tugasnya.)
Alan : Astaga. (kaget) oh iya.. ada tugas. Punyaku belum selesai. (mulai bingung dan menuju kebangkunya mengerjakannya.) Ahh, kenapa aku bisa lupa? (melempar bola basket yang sedari tadi ia pegang hingga mengenai plapon)

XXX

Bruakkkk.kkk (suara plapon yang rubuh dan menimpa seorang siswi yang sedang merajut switter)
Seorang siswi : (menjerit kesakitan yang kemudian suaranya menghilang bagai tertiup angin)
Siswa-siswi : (berlarian untuk menolong dan membawanya ke UKS)
Alan : (masih sibuk dengan tugas yang lupa ia kerjakan sebelumnya, tanpa sadar dengan kejadian yang sedang berlangsung didalam kelasnya)

XXX

Molly : (Menyapu lantai yang kotor akibat plapon yang roboh bersama salah seorang temannya)
Sania : mengapa tiba-tiba plapon ini roboh? (berhenti menyapu dan mulai mengajak Molly untuk bergunjing akan sesuatu hal)
Sarah : (mendengar pembicaraan kedua temannya, dan kemudian ikut bergabung) dengar-dengar kelas ini angker lohh, dan katanya setiap tahunnya selalu ada tumbal. (dengan nada yang menakut-nakuti)
Sania : benarkah?? (takut)
Sarah : dan Sepertinya itu sudah menjadi takdir Lily. Lihat saja tadi, darah yang keluar dari kepalanya buanyaakk bangett. (dengan nada sok tahu)
Sania : iya juga sihh. (mengiyakan) jadi, tumbalnya Lily?
Molly : husstt. (mengisaratkan untuk diam) tidak seharusnya kalian berbicara seperti itu. sebaiknya kalian berdua membantu aku membersihkan ruangan ini, karena tanganku sudah serasa akan patah memegang sapu ini. (memberikan sapu yang dipegangnya kepada Sarah)
Sania dan Sarah : (mencibir) aishh.
Molly : selamat bekerja (ketempat duduknya dan merenggangkan otot-ototnya)
[Jehan tiba]
Jehan : ada baiknya jika pembelajaran dihentikan dulu hari ini. Pertama, karena kelas yang sedikit berantakan, dan kedua karena mental beberapa diantara kalian, mungkin ada yang dikecoh oleh masalah ini. Sehingga meskipun pembelajaran berlangsung, tetap tidak akan bermanfaat, dan guru setuju dengan usulku. (dengan nada yang bijak)
Siswa : (bersorak gembira)
Siswi : (sedikit kecewa)
Alan : akhirnya selesai juga. (tuturnya menatap tugas yang dia kerjakan dengan cucuran keringat dan tetesan air mata. (-___-)  ))
Jehan : apa yang sedang kau lakukan?? (menatap alan dengan aneh)
Alan : (mengangkat buku tugas MTK, sebagai isyarat bahwa dia baru saja mengerjakan tugasnya) Apa yang telah terjadi disini? (memerhatikan kelasnya yang sedikit berantakan, dan tinggal mereka berdua didalamnya.)
Jehan : (sedikit kesal) apakah benar isu yang mengatakan, jika kau mengerjakan suatu hal, kau hanya akan fokus dengan hal itu? sampai-sampai, kejadian dalam kelas kamu sendiri kau tidak tahu, sedang kau ada didalamnya. (menatap alan dengan tatapan yang sedikit marah dan kesal)
Alan : yah sudah. Enggak perlu menatapku segitu juga kale !! (membalas tatapan Jehan dan Jehan hanya tersenyum melihat tingkah kekanak-kanakan sahabatnya) Terus bagaimana dengan tugas ini? (memperlihatkan buku yang dipegangnya)
Jehan : Hanya menyimpannya untuk besok. (ungkapnya sembari merangkul alan keluar dari kelas)
Alan : (melepaskan dirinya dari Jehan) Jadi aku bersusah payah menyelesaikan ini, dan pada akhirnya dikumpul besok? (dengan nada yang sedikit ditekan)
Jehan : itu masalahmu. (mengangkat kursi yang lupa dirapikan oleh teman sekelasnya, keatas meja) bantu aku sejenak ! (perintahnya kepada alan)
Alan : baik ketua kelas (ucapnya dengan nada bercanda) Lalu dimana Jojo? (mengangkat kursi)
Jehan : tadi disuruh guru, memanggil wali Liiilyy (dengan nada kelelahan pada saat mengangkat kursi guru). Selesai. Ayo, pulang. (ajaknya kepada alan yang juga telah selesai mengangkat kursi.)
Alan : ok. (berjalan keluar)

XXX
[Keesokan harinya…]
Jehan : kau hampir terlambat hari ini. (tegurnya kepada sahabatnya, Alan)
Alan : Didepan tadi, aku bertemu dengan Lily, dan berbincang-bincang dengannya. (balas Alan dengan senyuman, bak ada sesuatu yang indah sedang berlangsung hari ini)
Jehan : Lily? (menatapnya bingung)
Alan : (mengangguk sembari terus memperlihatkan suasana hatinya yang sedang bagus)
Jehan : (masih saja menatap alan bingung, namun berusaha untuk menghiraukannya)
Alan : (menuju kebangkunya)

XXX

Lily : Hi, kak ! (mengambil bangku lalu duduk didepan Alan dan menghadap ke Alan) Apa yang sedang kakak lakukan?
Alan : seperti biasa, mengerjakan tugas. (menatap Lily) Apa yang sedang kau lakukan disini? Sebaiknya kau ke bangkumu, sebelum bapak, memarahi kita. (tegurnya)
Lily : bapak, tidak akan melihatku. (ucapnya, dan menopang dagu) dan sebaiknya kakak fokus saja dengan tugas kakak. Tidak perlu memedulikan aku. (lanjutnya)
Alan : baiklah. Aku sudah menegurmu, jadi selanjutnya menjadi urusanmu seorang. (tegasnya)
Lily : (mengangguk)
Alan : dan jangan marah kalau aku tidak memedulikanmu untuk saat ini. (lanjutnya)
Lily : ok. (berbisik, dan kemudian mengangguk)
Alan : (sibuk dengan tugas yang ada didepan matanya)
[BEL -BERBUNYI]
Guru : baiklah anak-anak pelajaran akan kita lanjutkan setelah istirahat. (merapikan mejanya) Kalian boleh keluar sekarang. (lanjutnya)
Siswa-siswi : (beberapa yang mulai berlarian keluar kelas, ada yang mulai merapikan mejanya, ada yang masih memikirkan materinya, dan ada yang menuju meja guru untuk bersalaman dengan bapak guru.)
Alan : selesai. (ungkapnya, berharap Lily yang sedari tadi menatapnya tahu bahwa pelajarannya telah diskorsin untuk sementara)
Lily : Kakak mau kekantin? (tanyanya)
Alan : kau ingin ikut? (balik bertanya, sembari merapikan meja, dan menyimpan beberapa buku dilaci/tas)
Lily : tidak. (balasnya) Hanya saja aku bawa bekal untukmu. Aku sengaja menyiapkannya. (tuturnya) Maukah kau memakannya untukku? (tersipu malu)
Alan : baiklah. (mengiyakan) Hari ini aku akan makan bekal buatanmu bersamamu. Aku memang sudah bosan dengan makanan kantin. (ungkapnya sembari tersenyum)
Jojo : Ayo ke kantin ! (ajaknya kepada Alan)
Alan : aku makan di kelas saja. (balasnya)
Jehan : kau bawa bekal? (tanyanya)
Alan : (memasukkan sendok yang berisi makanan di mulutnya, sehingga tidak bisa menjawab pertanyaan Jehan)
Jehan : Bukankah kau bilang pernah mengejek anak perempuan yang bawa bekal? (lanjutnya, menyinggung) Tingkah yang kekanak-kanakan. Kau dulu mengatakan hal itu. (lanjut Jehan)
Sania : bawa bekal itu keren tahu. (selanya)
Sarah : selain hemat, juga terjamin higienisnya. (ungkapnya, ikut membela anak bekal)
Jojo : Hemat, kau bilang? (selanya) Nasi, telur, sayur dan ayam itu, semua kau belikan? Kalau dihitung-hitung, pengeluaranmu lebih banyak daripada diriku tiap harinya. Terlebih lagi, kau harus mengeluarkan banyak tenaga tiap paginya hanya untuk menyiapkannya. (lanjutnya)
Sarah : (tampang kesal)
Jojo : lebih baik akukan? Tinggal duduk nunggu mbaknya yang siapin, plus murah. Alias Terjangkau. (tambah jojo)
Sania dan Sarah : (semakin kesal)
Molly : Sudah. Dari pada berantem disini dan keburu waktu istirahatnya habis, mending kita kekantin. (menarik tangan jojo dan jehan)
Jojo : kau tidak bawa bekal? (melihat kearah Molly)
Molly : Aku lupa. (ucapnya, menunduk)
Jojo : katakan saja kalau kau mulai malas jadi anak bekalan. (ejeknya)
Jehan : (tertawa)
Molly : (menendang kaki Jehan, kemudian Jojo) berhentilah menggodaku !
Jehan, Jojo, dan Molly : (keluar kelas menuju ke kantin)
Lily : Bagaimana masakanku? Enak? (tanyanya)
Alan : (mengangguk, sementara mulutnya masih dipenuhi makanan)
Lily : (tersenyum) makanlah pelan-pelan ! Aku tidak akan merebut makananmu. (tegurnya) Ini air minum, jika kau tersedak. (ucapnya, mengulurkan air)
Alan : (menelan makanannya, kemudian minum) kau tidak makan juga?(tanyanya)
Lily : tidak. Melihatmu makan, aku sudah kenyang.
Alan : benarkah ? (tersenyum)
Lily : (melihat gitar Alan dibawah meja) kau pintar memainkannya? (tanyanya menunjuk ke gitar di samping kaki Alan)
Alan : gitar? (menghabiskan air minumnya)
Lily : (mengangguk)
Alan : Aku bisa. (jawabnya) tapi tidak mahir. (lanjutnya)
Lily : Dulu, aku sangat suka melihat kakakku memainkan gitarnya. Sehingga aku memohon agar dia mengajariku. (tutur Lily, yang mulai bercerita)
Alan : terus, dia tidak mengajarimu? (tebak alan, sok tahu)
Lily : dia mengajariku dan aku berlatih keras sehingga aku bisa memainkan satu lagu.
Alan : lalu? (penasaran)
Lily : Lalu pada hari peringatan kelahiranku yang ke 15 tahun, aku memintanya membelikanku gitar yang sama seperti miliknya. Bukankah aku sangat egois, seharusnya aku hanya menggunakan miliknya, tidak perlu menyuruhnya membelikanku. Padahal, kakakku itu tidak memiliki uang. Sementara kami juga tidak memiliki ayah dan ibu yang bisa saja mengabuli segala permintaanku. Yang kumiliki hanya dia.
Alan : dia membelikanmu?
Lily : Iya. (tersenyum) Dia membelikan gitar yang sangat cantik, BAHKAN lebih cantik dan lebih bagus dari miliknya. Dia memberikanku gitar itu pada hari ultahku, sebelumnya dia menyuruhku menunggunya didepan kostku dan dia. Katanya, dia ingin aku melihat kejutan yang ia persiapkan untukku. (lanjut dengan senyum yang tidak pernah pudar)
Alan : kejutan untukmu? (tutur Alan yang menikmati cerita Lily) seperti apa kejutannya? (lanjutnya)
Lily : Seharusnya indah. Tapi ternyata, aku sendiri yang menciptakan kejutan itu. Jadi, tentu tidaklah indah.
Alan : maksudnya? (penasaran)
Lily : Demi gitar, aku mengorbankan kakakku. Itu kejutan yang kuterima dihari ultahku.
Alan : Aku masih saja tidak mengerti.
Lily : Saat itu kakakku mengendarai sepeda motor, aku masih ingat dengan jelas wajahnya. Setelah dia memarkirkan sepeda motornya, dia membawa gitar itu kepadaku. Dia bilang ini hadiahmu. Lalu, aku membalasnya dengan pertanyaan, lalu kejutan untukku? Gitar ini? Aku bertanya seperti itu. Bukankah aku tampak seperti orang yang tidak tahu bersyukur?
Alan : (mendengar dengan serius)
Lily : Kakakku bilang, ini bukan kejutannya. Masih ada. Dia berkata seperti itu, lalu kembali menuju kesepeda motornya. (mimik wajahnya berubah) Namun, tiba-tiba ada truk dengan kecepatan tinggi mengarah kepadanya, dan aku baru sadar setelah sepeda motor kakakku terlempar jauh, dan kakakku itu, tidak ada lagi dihadapanku. (menangis, terisak-isak)
Alan : (bercampur dengan suasana hati Lily)
Lily : selanjutnya, aku tidak ingat lagi. (kembali tersenyum) Yang ku ingat selanjutnya hanya, senyum yang dia pamerkan kepadaku hari itu. Senyum yang kadang mebuatku iri, karena tidak memiliki senyum seperti itu. (lanjutnya, sembari tetap tersenyum)
Alan : meski aku tidak tahu seperti apa senyuman kakakmu, aku akan membuatmu tersenyum seperti itu. (ungkap nya)
Lily : benarkah? (tersenyum)
Alan : iya. Aku janji. (tuturnya) Lagu apa yang ingin kau dengar sekarang? Aku akan memainkannya untukmu.
Lily : lagu yang kakak tahu saja. (ucapnya)
Alan : kalau begitu aku akan memainkan lagu xxxx. Setelah ini kau pasti ingin meminta tanda tanganku. (ucapnya, bercanda, kemudian memainkan musik)
Lily : (menikmati alunan gitar alan, kemudian teringat sesuatu) aku lupa sesuatu. (menuju kemejanya dan mengambil sesuatu dibawa meja)
Alan : (menghentikan permainan gitarnya, memerhatikan Lily) Apa?
Lily : Ini dia. (mengambil sebuah switter, lalu kembali duduk disamping Alan) Hari ini kakak ulang tahunkan?
Alan : (tertawa)
Lily : Aku merajutnya sendiri. (tuturnya) Rencananya aku akan membungkusnya dengan rapi, dan memberikannya hari ini. Namun aku tidak bisa membungkusnya. Ini juga belum selesai total, alias masih kurang dibagian sini dan sini. (menunjukkannya bagian-bagian switter yang masih perlu diperbaiki dan ditambah)
Alan : tidak apa-apa. Kau ingat ultahku juga sudah cukup.
Lily : tidak. Seharusnya, ini memang selesai hari ini. Tapi kondisiku, tidak mengijinkanku menyelesaikannya. Maaf ! (tuturnya) Jadi, sebaiknya aku tidak memberikannya. (lanjutnya)
Alan : berikan switter itu kepadaku. (balas alan)
Lily : benarkah? Kakak menginginkannya?
Alan : tunggu aku disini. (jawab alan, mengingat sesuatu kemudian berlari keluar) aku harus mengambil sesuatu dulu.
[tata cahaya (pencahayaan) padam]
XXX

Alan : (memasuki kelas, dengan menggenggam bunga Lily yang rencana ingin ia berikan kepada Lily, dan menyatakan perasaannya)
[Namun Lily dan switter itu, sama sekali tidak ia lihat dalam kelas yang mulai dipenuhi dengan teman sekelasnya yang lain]

Jehan : Darimana saja kau?
Alan : Han, kau lihat Lily ?
Molly : Lily? (selanya) Lily, teman sekelas kita?
Alan : siapa lagi?
Jehan : Dia ada dirumah sakit sekarang. Dia tidak datang kesekolah hari ini.
Alan : tidak. Dia datang kesekolah hari ini. Pada jam pelajaran tadi, dia duduk didepanku. Dia membawakan ku bekal hari ini, dan dia menemaniku main gitar sebelumnya.
Jehan : Alan, Baru saja ibumu menelponku dan menanyakan apakah kau menghabiskan bekal yang ia buatkan untukmu. Lily, tidak pernah ada dalam kelas ini. Kau mungkin salah.
Alan : aku tidak salah. Kalian melihatku kan? (menatap sania dan sarah)
Sania : aku melihatmu saat kau main gitar tadi, tapi aku tidak melihat Lily. (ungkapnya)
Alan : tapi dia nyata-nyata bercerita denganku. Aku berbicara dengannya hari ini. (tutur alan berusaha meyakinkan teman-temannya)
Sarah : tadi kau memang tampak bercerita dengan seseorang, tapi yang aku dan sania lihat kau hanya seorang diri. (jelasnya) Kami hanya berpikir kau berlatih untuk mempersiapkan drama di teater sekolah nanti. (lanjutnya)
Alan : jadi kalian pikir aku gila? Lily, dia bahkan merajut baju untukku.
Siswa-siswi : (memerhatikan tingkah Alan)

[JOJO berlari memasuki kelas]

Jojo : Teman-teman… Lily, dia dinyatakan meninggal hari ini.
Molly : apa?
Jojo : sebelumnya dia melakukan beberapa operasi dikepalanya, namun karena jatuhan atap yang roboh yang keras menyebabkan tengkoraknya pecah, dan puing-puing itu mengenai organ vital didalamnya. Ditambah lagi karena ketahanan tubuh Lily yang lemah. Kata teman kostnya, beberapa akhir ini Lily sering kali begadang merajut switter ini……
Alan : (terdiam)
Jojo : untuk Alan. (lanjutnya, memberikan switter itu pada alan) Teman kostnya juga berkata kalau Lily mempersiapkan kejutan untuk Alan. Tapi, sepertinya kejutan apa dan bagaimana itu tidak ada yang tahu.
Jehan : (merangkul alan dan tidak mengatakan apapun)

              SEMUA SISWA terdiam, dan meski terkadang terdengar kata Innalillahi terucap dari salah satu siswa.

Alan : atap yang roboh. Itu karena tingkahkukan? Aku melempar bola basket itu, dan bola basket itu mengenai plapon, kemudian atapnya roboh. Itu benarkan?
Jehan : itu bukan karenamu. Kayu pembentuk atap kelas ini memang sudah rapuh. (jelas jehan, menenangkan)
Alan : tapi jika aku tidak melempar bola waktu itu, atap ini tidak akan roboh dan mengenai Lily. (marah pada dirinya sendiri)
Sania dan Sarah: (berpegangan tangan, tampak air mata yang juga ingin mengalir namun tertahan oleh kelopaknya sendiri)
Molly : (mendekati Alan, dan membantu Jehan menenangkannya)
Jojo : (terduduk dibangku tepat berada disamping, kemudian terdiam)
Alan : waktu itu, seharusnya aku menolongnya, namun aku tampak bodoh dan tidak tahu apapun. Aku berjanji untuk membuatnya tersenyum seperti kakaknya, tapi aku membuatnya berakhir seperti kakaknya. Sebenarnya apa yang telah aku lakukan? Jehan, sadarkan aku, apa yang telah aku lakukan? (berbalik menatap Jehan, dan menarik tangannya)
Jehan : (terdiam)
Alan : aku membunuhnya, lalu aku menghancurkan hadiahku. Aku menghancurkan hadiahku. Aku menghancurkan hadiahku. Hahh.. Inikah kejutan itu? Kejutan yang kubuat sendiri untukku.
Jojo : (mulai mendekati Alan, dan merasa bersalah dengan perkataannya mengenai kejutan, sebelumnya) Tidak seperti itu. Tenanglah !
Alan : bagaimana aku bisa tenang, ketika aku melihat kejutan yang pernah dirasakan Lily?
(ungkap Alan, sembari menggenggam bunga Lily yang sedari dia pegang dengan lebih keras, dan memeluk hadiah yang telah ia rusaki.)

SEMUANYA menatapnya dengan penuh haru.


(11.01/18/11/2013/tulipungu)

Puisi : Mengharap bintang

Senjaku berakhir
Kaki terangkat menuju gelap
Tanpa lentera, 
Tanpa bintang

Gelap, karena putus asa
Gelap, karena tak ingin mencoba
Gelap, karena takut menyesal
Gelap, yang mengakhiri sebuah usaha

Lampu tak ingin menerangi
Lilinpun tak rela dilelehkan
Demi kunang-kunang
Yang kehilangan cahayanya

Terbang tak tentu arah
Terbawa angin yang melesat
Jatuh, terseret aliran sungai yang cepat
Mengharap hadirnya SEBUAH BINTANG

(22.43/26/05/2014/tulipungu)