Jumat, 20 Februari 2015

Pesan Anak Itik

"Jangan hanya menatap ke atas, tapi cobalah menatap ke bawah."-

Ketika kamu menatap ke atas yang terlihat hanya burung -dengan lincahnya mengepakkan sayap- di langit yang luas. Burung yang ditakdirkan untuk terbang. Juga memberitahumu bahwa dia bisa terbang.

Ketika kamu menengok ke bawah, akan nampak olehmu seekor cacing. Cacing yang menggeliat di tengah lumpur, berharap terbang. Sekedar berharap.

Ketika kamu menerawang jauh ke dasar, tampil di hadapanmu ribuan ikan menari-nari. Mereka mengepakkan ekor dan sirip, layaknya mengepakkan sayap. Mereka berpetualang di dasar yang gelap, bak menjelajah langit yang luas. Mereka paham bahwa mustahil untuk mereka paham betapa hebatnya Sang Bitara. Mereka mengerti betapa hidup mereka hanya di sekitar negeri neptunus. Berharap terbang, sekedar harap.

Saat itu, kamu sungguh beruntung. Tak butuh waktu lama bagimu bermain lumpur, untuk terbang. Tak perlu lama bagimu menjelajah laut untuk terbang.

Kamu hanya butuh waktu yang bahkan lebih sedikit dari cacing dan ikan harap itu. Waktu untukmu tahu bagaimana sayap kecilmu melebar. Waktu untuk tahu bagaimana sayap -yang berusaha kamu kepakkan- melukaimu. Waktu untukmu mengerti akan luka. Paham bagaimana dirimu jatuh sebelum kamu bisa terbang layaknya burung. Singkat, bukan?

Bukankah kamu patut bersyukur? Demi cacing dan ikan. Sebelum kamu menyerah dan berakhir jadi santapan burung elang. Kamu hanya perlu bersyukur, kemudian berusaha terbang, melindungi dirimu.

"Jangan menatap ke atas, tapi cobalah menengok ke bawah."-

(tulipungu/18.44/20.02.2015)

Pesan Anak Itik KEPADA DIRINYA SENDIRI. 

Pesan Anak Itik