Minggu, 21 September 2014

Cerpen : Aku Jatuh Cinta




http://sharingdisini.com/wp-content/uploads/2013/11/fall_in_love.jpg
“Seseorang yang kau cintai, haruslah orang dengan kepribadian yang luar biasa.”ucap kakek, kepadaku yang sedang memainkan pulpen yang senantiasa menari-nari diatas selembar kertas.
“Tentu.”ucapku, tersenyum simpul. “Mereka adalah Ibu, Ayah, dan Kakek.”lanjutku, menyatakan bahwa orang-orang luar biasa yang menyelinap di dalam hatiku, sekarang sedang duduk didepan mataku.
“Hahaha.”balas kakek, dengan tawa yang menggebu-gebu di telingaku, sementara aku bingung bagaimana menafsirkannya.

Itu adalah sepotong percakapan antara aku dan kakekku 8 tahun yang lalu, dan masih terdengar tutur-tuturnya dengan jelas ditelingaku. Percakapan yang mungkin tidak berlaku lagi, pada keadaanku sekarang ini., karena aku yang sekarang adalah seorang gadis remaja yang masih labil akan cinta sesungguhnya, dan sedang berada pada puncaknya sebuah pergaulan. Namun tentulah aku masih memiliki keteguhan di dalam hatiku.
“Ka ! Ika…!”ucap teman sebangkuku, Amel.
“Mmm?”
“Kau mau ke anniversaryku dengan Adit nanti sore?”tanyanya, dengan harapan aku mengatakan “Ya”.
Anniversary?”
“Perayaan jadianku yang ke 100 hari.”ungkapnya.
“Ouww, itu.”pikirku. “Sorry. Kayaknya aku nggak bisa deh, soalnya aku mau ngerjain skripsiku, yang harus kuselesaikan sebelum maulid.”ungkapku.
“Lagi?”
“Iya. Skripsinya tentang seseorang yang sangat aku cintai.”
“Inilah mengapa kau selalu JOMBLO.”tuturnya, dan aku menaikan alis tanda tak paham. “Karena kau tidak pernah membiarkan hatimu ke sosok yang lain.”
              “Untuk apa memedulikan hal itu. Aku merasa sudah cukup bangga memiliki Nabi Muhammad SAW, sebagai sosok yang aku cintai.”tuturku, dan dia tersenyum.
“Itulah dirimu.”balasnya, melihat kearah dua anak kecil yang sedang membaca Al-Qur’an di teras rumah mereka, sembari tersenyum dengan nikmat. “Aku sebenarnya iri denganmu, aku tidak tahu-menahu tentang perasaan mencinta seperti itu.”tuturnya. “Didalam hatiku hanya Ibuku, ayahku, dan Adit. Tidak ada lagi.”lanjutnya.
“Kau tidak salah. Perasaanmu memang wajar.  Dulu akupun demikian.”tegasku. “Tapi saat aku mulai mengenal sosok dengan kepribadian yang luar biasa, baik akhlaq, sifat, maupun dzatnya, sosok yang dermawan, sosok dengan kebaikannya, keteguhan, dan murah senyumnya, membuatku jatuh cintah padanya.”tuturku, membayangkan sosok Nabi Muhammad SAW. “Aku mencintai beliau lebih dari apapun di dunia ini, termasuk diriku sendiri, meski tak melewati cintaku kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Aku bangga, bisa hadir disisi, dan menjadi umatnya.”lanjutku menegaskan.
“Kau seperti membicarakan kekasihmu saja.”ucapnya, aku tersenyum malu.
“Hehehe. Benarkah? Aku harap, aku bisa jadi kekasihnya.”lanjutku, dan dia tertawa.
“Apa bukti kau mencintainya?”tanya Amel dan aku terdiam. “Maksudku, apa yang membuktikan bahwa kau sungguh mencintainya? Bukan maksudku, kau berkata bohong. Tapi aku hanya penasaran dengan perasaanmu.”lanjutnya, dan aku tersenyum.
“Mendengarkan, memahami, dan mengamalkan tutur kata, ajaran, dan sunnah beliau.”ucapku spontan. “Setiap orang memiliki pendapat berbeda tentang itu, dan begitulah caraku dan buktiku bahwa aku mencintai beliau.”
“Kau hebat, Ka.”puji Amel, tersenyum, sembari mengangkat 2 jempolnya.
“Kaupun harus demikian, jika kau mau belajar untuk sedikit memahaminya, mungkin kau akan langsung memutuskan Adit.”ucapku bercanda.
“Yah. Bisa jadi.”lanjutnya, dan kami tertawa bersama. Hehehe.
“Apa kalian membicarakanku?”tanya Adit yang tiba-tiba berada diantara aku dan Amel.
“Sepertinya.”ucap Amel, dan aku mengangguk tak pasti.

Akhirnya, aku mengerti sosok yang dimaksud kakek saat aku masih berumur 7 tahun. Sosok yang luar biasa, Nabi Muhammad SAW, dan aku akhirnya jatuh cinta kepada beliau. Sangat mencintainya, dan aku harap beliau juga menerimaku didalam golongannya, juga menerima kakekku yang sekarang telah pergi mengikutinya. AMIN.

(06.51/17/01/2014/tulipungu) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar