Rabu, 26 November 2014

Berkas Kata

http://gambardanfoto.com/wp-content/uploads/2013/11/gambar-lukisan-pensil-3d-anak-menangis.jpg
Pada akhirnya catatan kusut itu, kembali kunodai. Beberapa tetes tinta, untuk mengungkapkan beberapa majas sarkasme. Marah pada diri sendiri yang merengkuh pada Litotes. Awalnya aku tak menyadari. Betapa indahnya awan jingga, sore itu. Aku mengabaikannya, dan iri pada wajah bulan berseri, yang muncul dikala petang hilang. Aku berseteru dalam gumaman hati juga pikiranku.

Dia bukan hal yang bisa kuanggap sepele. Dia juga bukan sosok yang ada, dengan malangnya jatuh dalam kehidupanku. Aku bimbang, dan mengutamakan hal yang memenuhi kraniumku. Aku bodoh. Sekarang, mungkin lebih keras dari sifatku, aku jatuh. Aku yang mungkin sudah tiba di tepian puncak, jatuh dan berlutut di kaki gunung. Aku tak memahaminya.

Sekarang, untuk apa aku? Dia bukan suatu hal yang sepenuhnya milikku. Dia milik semua orang. Aku mungkin saja, aku ingin jadi satu-satunya. Tapi, apa? Dia jauh dariku, dan ada orang lain yang lebih dekat.  AKU HANYA BISA BERGUMAM.

Pada dia, Sang Ambisi.
(Tulipungu/00.32/11/11/2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar