Rabu, 17 Juni 2015

Kembalikan Surgaku, Yaa Rabb

http://cdn-2.tstatic.net/banjarmasin/foto/bank/images/ilustrasi-tewas-jua-naha-susah.jpg

“Bangun, Neng! Shalat dulu atuh, nanti bobo lagi.” celoteh ummi lebih keras dari gema adzan subuh. Tapi, putri semata wayangnya masih terbelenggu kantuk parah setelah semalam begadang.

“Nanti, Ummi. Sebentar lagi.” gerutu Anna. Kantuk masih menggerumuti setiap selnya. Ibarat kasurnya mencengkramnya hingga bergerakpun tak sanggup ia lakukan.

“Waktu subuhkan enggak panjang kayak isya. Ayo bangun, keburu pagi." Suara ummi masih melantung membungkam Anna. Anna masih terlelap. Sekarang dia bahkan tidak menyahut. “Punya anak gadis, kok... lambatnya kayak kerbau.” ummi mengomel memasuki kamar Anna. Dia menggoyangkan tubuh Anna pelan, berharap Anna beranjak dari kasurnya.

“Shalat dulu, lalu lanjut bobo lagi. Shalatkan enggak bisa ditunda-tunda atuh, Neng.” dengan sabar, ummi tidak menyerah membangunkan putrinya yang telah mencapai masa baliq.

“Iya, ummi. Anna bangun nih.” Anna beranjak dari kasurnya, lalu menuju ke kamar kecil.

“Jangan tidur disitu juga, ya, Neng!” canda ummi.

“Ummi, bawel.” teriak Anna dan perut ummi terguncang tawa.

***

Kedua jarum jam kini berada di puncak putarannya. Anna dengan sigap menyantap makan siangnya. Hari libur membuatnya malas, dan kini nasi masuk ke lorong perutnya setelah kosong selama hampir enam belas jam.

“Laparkan?” sergah ummi.

“Tidak juga. Hanya saja, mubazir kalau nasi di atas meja ini tidak dimakan.” Anna mencuri alasan. Seketika perutnya berbunyi membela. Ummi tertawa.

“Hehehe. Perutku berbohong.” lanjut Anna. Ummi duduk di depannya.

“Mana ada perut yang berbohong?” celoteh ummi. “Tapi, tidak apa-apa. Tubuh putri ummi selalu menyela kebohongan putri ummi.” lanjut ummi, disambut sneyuman tiga jarinya.

“Ummi.” kesal Anna.

“Kenapa?” ummi mengernyutkan dahi.

“Ummi, buat Anna tidak selera.” Anna menghabisi makanan di depannya dengan sigap, lalu beranjak dari meja makan meninggalkan ummi.

“Bukannya tidak selera, tapi memang sudah habis.” ummi membela diri.

“Apapun, ummi.” balas Anna. “Anna mau pergi jalan-jalan yah, ummi.” teriak Anna, tidak maksud bertanya.

“Siang bolong begini? Jalan-jalan kemana dan sama siapa?” khawatir ummi.

“Sama temen, ummi. Sebentar ajah, kok.” tutur Anna, memasuki kamarnya.

“Tidak tunggu habis Suhur dulu?” balas ummi.

“Nanti kalau udah balik.”

“Kalau begitu, pake jilbab yah!” teriak ummi, di depan kamar putrinya.

“Oke, ummi. Anna berangkat.” celoteh Anna keluar dari kamarnya. Dia dengan segera mencium tangan ummi, dan berjalan menuju pintu keluar.

“Pake rok atuh, Neng! Kalau pake jeans, terlalu ketat.” sergah ummi melihat penampilan putrinya.

“Pake rok rempong, ummi. Anna cuma sebentar saja kok.” tutur Anna, sembari berbalik melihat ummi.

“Tapi...”

“Ummi sudah, Anna berangkat. Bye!” potong Anna.

“Ucap salam!”

“Assalamu alaikum.” teriak Anna.

“Waalaikum mussalam." balas Ummi yang masih siaga dengan raut wajah khawatirnya.

***

Mentari sebentar lagi hilang dari lingkup dunia Anna. Suara musik yang keras membuat telinga Anna tuli. Derai suara adzan di luar ruangan berukuran satu kali dua meter itu hanya terpantul. Anna lupa raut muka khawatir yang tinggalkan pada ummi siang itu. Anna tertawa riang bak hanya ada tempat itu di dunia—tak ada ummi. Anna merasa bebas dari dunia yang mungkin membuat dia tertekan. Dunianya dengan sekolah berjurusan IT dan dunianya dengan ummi. Anna sedang karaoke dengan teman-temannya.

“Jam berapa sekarang?” teriak Anna. Suaranya hanya tenggelam dalam ruangan itu.

“Masih pagi. Tenang saja.” balas Anggi, teman sekelasnya.

“Masih pagi apanya? Kita kesini siang, atuh, Nggi.” oceh Anna sembari mengambil ranselnya dan keluar ruangan.

“Mau kemana? Udah selesai?” teriak Anggi.

“Astagfirullah.” kaget Anna melihat jam di ponselnya. “Sekarang udah magrib, Anggi.” Anna gelisah. Dengan segera ia keluar mencari taksi dan berharap dia akan segera tiba di rumahnya sekarang juga.

Cuaca berubah. Awan bergerumun di atas kepala, dan mungkin akan hujan. Anna masih menunggu taksi lewat dan tidak ada satu pun. Hatinya gelisah. Malam akan segera tiba, dan dia meninggalkan ummi seorang diri di rumah. Dia bersalah.

“Biar Rangga yang antar, Na.” ucap Anggi. Anna tahu bukan itu maksudnya. Dari dulu Anggi menjadi mak comblang Rangga untuk dirinya. Anna menolak.

“Ummi, akan mengomeliku karena pulang bersama laki-laki.” tutur Anna. “Sebentar lagi akan ada taksi lewat kok.” lanjut Anna.

“Biasanya jam segini takkan ada taksi lewat. Selepas Isya baru ada.” Rangga memicing. Kesal menggerumuti tubuh Anna. Dia menyesal keluar rumah hari itu.

“Tunggu sebentar lagi.” Anna kukuh. Dia tahu Rangga bukan laki-laki baik-baik. Ummi akan marah jika dia pulang bersama laki-laki itu. Berdua di mobil, sementara gelap menghampiri.

“Aduh, Lu manja banget sih, Na. Ummi lagi, ummi lagi, apa nggak ada alasan lagi?” Anggi mengomel.

Anna hanya terdiam. Hidupnya memang tidak lepas dari Ummi. Dan detik itu, dia memohon pada dirinya untuk tidak pernah membantah Umminya lagi.

Sekejap yang Anna pikirkan hanya Ummi. Ummi mungkin kuat, tapi dia paling benci sama malam. Ummi mungkin selalu tegar di depan Anna. Tapi Anna tahu pasti, Ummi selalu menangis saat gelap tiba. Dalam pikiran ummi, gelap itu berarti Abbi. Abbi yang dulu selalu memukuli Anna di saat malam karena nakal dan pembantah. Abbi yang dulu menyiksa ummi karena masalah sepele.

Bagi ummi malam itu adalah dosa besar dalam hidupnya. Dosa karena membunuh Abbi, saat abbi menyiksa Anna. Anna masih mengingat jelas kejadian malam itu. Dan kejadian itulah yang menghasut hatinya sekarang—juga umminya.

Lalu haruskah dia menerima tawaran Rangga yang ingin mengantarnya pulang? Hati Anna bergumam.

“Hah... Hafiz.” Teriak Anna. Suaranya meledak, melihat Hafiz teman SMA-nya di perempatan jalan di bawah lampu merah. Dengan sigap dia berlari menuju Hafiz.

“Aku akan pulang bareng Hafiz.” teriaknya berbalik kepada dua temannya yang membisu.

“Aku?” Hafiz kaget. Lelaki berbaju kokoh sehabis ke mesjid itu, hanya terpaku di tempatnya menanti Anna tiba di dekatnya.

“Antar aku pulang! Aku mohon!” keluh Anna. Wajahnya memelas.

“Tapi, aku...” Hafiz ragu sembari memperbaiki kopia di kepalanya yang bahkan masih terpasang dengan baik. Dia merasa berdosa, menatap wajah perempuan yang bukan mukhrimnya.

“Aku tahu aku salah membantah perintah ummiku—dengan keluar rumah dengan pakaian seperti ini. Aku minta maaf. Aku khilaf. Dan kau tahu jugakan kebiasaan ummiku, termasuk ketakutannya saat malam tiba. Jadi, kumohon bisakah kau mengantarku pulang?” celoteh Anna. Dia tampak benar-benar menyesal.

“Kamu masih bisa mengingatkukan?” lanjut Anna, tidak membiarkan Hafiz berkomentar. “Aku Anna, teman SMA-mu. Kamu lupa?” sambungnya.

“Aku ingat. Aku ingat.” balas Hafiz. “Tapi, kamu mau kuantar dengan motor buntutku begini?” lanjutnya semringah.

“Hah, apa yang menurutmu membuatku gensi? Naik bemor saja aku takkan malu.” balas Anna, sembari menaiki motor Hafiz.

Keduanya melincah di tengah jalan ibukota.

***

Terpukau dengan apa yang disaksikannya, mata Anna terbelalak melihat apa yang sedang disaksikannya—di rumahnya. Si jago merah dengan lahap menyatap kediamannya. Tempatnya menata hidup dengan ummi. Berpuluh orang mulai berkerumun sembari melempar air dengan timbah, ember, dan baskom. Beberapa diantara mereka sedang berceloteh saling memerintah untuk menelpon pemadam kebakaran.

Anna masih diam. Kaget menyerang pikirannya hingga air matanya hanya terlinang di kelopaknya—tak berniat untuk terjatuh.

“Apakah ada orang di dalam?” sergah salah satu warga, dan dengan segera Anna menyelinap masuk ke dalam tumpukan kayu bakar—yang sebagian gosong.

Hampir seluruh warga berteriak menghalangi. Tapi tidak ada yang bisa membatasi penyesalan Anna. Sesal karena keluar rumah hari itu. Sesal karena membantah ummi. Sesal hanya tinggal sesal.

Hafiz yang tadinya menenangkan Anna, bahkan tak mampu menampung risau Anna. Dia hanya bisa menunggu hingga api itu redup oleh sang pemadam kebakaran. Hafiz hanya bisa berdoa pada Yang Maha Kuasa agar Anna dan Ummi selamat. Suatu hal yang mustahil untuk sekarang. Tapi tidak akan mustahil dengan izin Allah.

“Ummi. Ummi dengar Anna.” Anna mencari di tengah kerumunan api yang semakin lapar. Tak ada suara. “Ummi, dengar Anna. Maafkan Anna. Ummi dimana?” Air mata itu mungkin jatuh. Tapi tak mungkin untuk menghentikan api yang semakin membesar.

“Ummi....” suara teriakan Anna hanya merekah, setelah kayu penyanggah genteng—yang membara—menjatuhinya. Lalu suara dan pandangannya pun lenyap.

***

Kabur sudah penglihatan Anna. Matanya berusaha menyaksikan apa yang ada di lingkupnya sekarang. Hanya air mata yang tergenang dikelopaknya memberitahu bahwa Ummi telah tiada.

"Engkau mengambil kembali surgaku, Yaa Rabb." ungkap Anna dalam derai doanya.

(Andi Nurfadriani/16.31/05.04.2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar