Kamis, 18 Juni 2015

Tahun Manis



http://3.bp.blogspot.com/-_cT9h5isQaw/Tanemi2JxZI/AAAAAAAAADs/RHlUX7GIles/s1600/76-Happy-Birthday-01.jpg          

   Detak detik jam masih melantung memasuki waktu impian. Tidak peduli betapa suara kantuk ataupun nyenyak mengabaikannya. Akhirnya! mungkin jiwa yang terlelap pun ikut mengucapkan kalimat melankolis pada diri sendiri.

Ketika usia beranjak meninggalkan hidup berlabel enam belas. Saat jiwa harus memikul tanggung jawab yang lebih besar—juga lebih penting—sebagai sulung. Sebagai sulung yang dibanggakan, haruskah kujuga berbangga diri. Kata ‘tidak’ dengan sigap muncul dalam benak. Beban itu sungguh berat tuk kupikul. Tapi, itupun sebuah keharusan.

              Satu-persatu ucapan terlantung begitu manis di peringatan termanis—mungkin. Tepatnya semua orang menyebutnya manis. Bahkan sebelum hari ini, ucapan-ucapan selamat itu terlontar ingin kutengok. Tapi, apa dayaku? Aku hanya memiliki satu kepala. Sulit untukku menengok semua dan seluruh sekaligus. Karena itu, ‘Maaf!’ kata yang terlontar penuh arti.

***

              “Yos.. yos.. Happy old day! Now you’re seventeen. Have a nice and sweet seventeen. I just hope all the best thing come close to you. Love ya~..” pesan berdering meriah.

              “Belum.” gumamku. Karena faktanya hariku baru tiba besok.

              “Untuk besok itu. Hahaha.” pesan selanjutnya. Aku tersenyum berarti.

***

              “Happy birthday, wish you all the best! A.Nunu cantik, baik, pintar, bondeng, imut, cerewet, suka anime, jago menghapal. Dari Michelle.” kembali berdering. Tapi, hari yang berbeda. Hariku telah tiba. Ketika puing-puing hidup yang baru di pertambahan umurku mulai kujelajah. Kutersenyum. Siapa yang bisa menolak beribu doa yang terlontar oleh mereka? Tentu, kubahagia.

              Apa yang spesial dari tahunku ini? Terngiang dalam benak. Apakah memang semanis itu? Sehingga pantas mendapat gelar ‘Sweet Seventeen’. Seketika pikiran-pikiran mulai menggelitikku—memerintah tanganku untuk memuntahkan isinya. Aku masih tersenyum bak jawaban kutunggu telah tiba.

              Tujuh belas tahun adalah tahun dimana remaja akan dikatakan dewasa. Mengapa? Karena di tahun itulah seseorang tersebut akan menerima penghargaan terbesarnya setelah hidup bertahun-tahun—yakni pengakuan oleh negara. Siapa yang menolak sebuah pengakuan?

              Tujuh belas tahun. Musim seminya hati yang memekarkan bunga. Musim pancaroba jiwa yang lemah. Musim gugurnya daun pohon prinsip. Musim eksperimen hasrat dan jiwa. Musim pencipta karakterasistik permanen. Musim dipertaruhkannya diri untuk hidup lebih lama. Dianggap lebih lama lagi untuk dipanggil manusia. Menakutkan!

              Hidupku tak berbeda—sama dengan penelitianku akan manusia. Karena, toh akupun adalah manusia. Buih-buih perasaan romantisme akhirnya jatuh menghantam prinsipku. Hasrat manusia yang ingin dicintai dan mencintai akhirnya tertaruh dalam jiwaku. Bukan kusengaja. Akupun kaget, ketika menyadarinya dan berusaha kuabaikan. Tapi, sanggupkah aku?

              Hidupku dipertaruhkan. ‘Rumit’ kata ini muncul tidak menghancurkan gumamku—malah mempersulitnya. Bagaimana kumempertanggung jawabkannya di depan Allah, orang tuaku, dan diriku sendiri. Apakah ini murni dari hati ini? Aku pernah tersesat dalam pikiranku sendiri. Sebelum nasehat-nasehat itu membuatku memutuskan sesuatu hal yang sulit. Juga mungkin sedikit bubuhan takdir.

              “Jatuh cinta bukan hal yang lumrah. Itu hakikatmu sebagai manusia.” jawab seorang pria paruhbaya.

              “Tapi ingat cinta utama manusia adalah Allah.” jelas wanita muslimah.

              Aku tersenyum pasti. Kupikir, aku telah berdosa besar karena memekarkan bunga dalam relung jiwaku. Allah yang menurunkan perasaan ini, kenapa harus kutolak? Tapi tetap saja kuingin dalam batasan yang bebas dari syahwat. Yaa Rabb kumemohon perlindunganmu.

              Tujuh belas tahun. Apalagi yang spesial di tahun yang katanya manis? Disini peranku akan lebih besar. Karena aku sekarang berlabel dewasa—masih peralihan. Tapi, setidaknya aku akan tercantum sebagai pemilu. Itu bukan pilihan mudah.

              Lalu, peranku terhadap keluargaku. Bisakah kuterus menopang dagu dan menadah telapak tangan di depan orang tuaku? Mana boleh seperti itu? Tapi, kumemohon tunggu aku lulus dulu. Apa yang bisa kulakukan dan membuat mereka bangga? Satu-satunya cara ada masuk peringkat umum sekolah. Itupun sebuah keharusan. Yaa Rabb, kabulkan permohonanku itu. Aamiin.

              Jadi apakah tahun ini benar-benar manis untuk putri sulung sepertiku? Tidak manis, tapi setidaknya masih bisa kutelan saat ini. Meski kadang gumpalan batu amarah membuatku tersedak. 

"Aku mencintai kalian--yang hadir dalam hidupku. Sungguh!"

(Tulipungu/18.06.2015)

             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar