Showing posts with label CERPEN. Show all posts
Showing posts with label CERPEN. Show all posts

Thursday, 18 June 2015

Tahun Manis



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiOlJdvMAuMWEpyjqD1GS6xGMbI4MmDD_sikPfQ8gFUO7IhlUWHdyHUOAGLfTYc8nyMjyJ3ZTDpIl9aN4kUQ7Ws6Z0-0KOHm2InQHLrXa1aPTW_Gw98JL-UHg8FDeV7gWlMHSgVtL7hZY4/s1600/76-Happy-Birthday-01.jpg          

   Detak detik jam masih melantung memasuki waktu impian. Tidak peduli betapa suara kantuk ataupun nyenyak mengabaikannya. ‘Akhirnya!’ mungkin jiwa yang terlelap pun ikut mengucapkan kalimat melankolis pada diri sendiri.

Ketika usia beranjak meninggalkan hidup berlabel enam belas. Saat jiwa harus memikul tanggung jawab yang lebih besar—juga lebih penting—sebagai sulung. Sebagai sulung yang dibanggakan, haruskah kujuga berbangga diri. Kata ‘tidak’ dengan sigap muncul dalam benak. Beban itu sungguh berat tuk kupikul. Tapi, itupun sebuah keharusan.

              Satu-persatu ucapan terlantung begitu manis di peringatan termanis—mungkin. Tepatnya semua orang menyebutnya manis. Bahkan sebelum hari ini, ucapan-ucapan selamat itu terlontar ingin kutengok. Tapi, apa dayaku? Aku hanya memiliki satu kepala. Sulit untukku menengok semua dan seluruh sekaligus. Karena itu, ‘Maaf!’ kata yang terlontar penuh arti.

***

              “Yos.. yos.. Happy old day! Now you’re seventeen. Have a nice and sweet seventeen. I just hope all the best thing come close to you. Love ya~..” pesan berdering meriah.

              “Belum.” gumamku. Karena faktanya hariku baru tiba besok.

              “Untuk besok itu. Hahaha.” pesan selanjutnya. Aku tersenyum berarti.

***

              “Happy birthday, wish you all the best! A.Nunu cantik, baik, pintar, bondeng, imut, cerewet, suka anime, jago menghapal. Dari Michelle.” kembali berdering. Tapi, hari yang berbeda. Hariku telah tiba. Ketika puing-puing hidup yang baru di pertambahan umurku mulai kujelajah. Kutersenyum. Siapa yang bisa menolak beribu doa yang terlontar oleh mereka? Tentu, kubahagia.

              Apa yang spesial dari tahunku ini? Terngiang dalam benak. Apakah memang semanis itu? Sehingga pantas mendapat gelar ‘Sweet Seventeen’. Seketika pikiran-pikiran mulai menggelitikku—memerintah tanganku untuk memuntahkan isinya. Aku masih tersenyum bak jawaban kutunggu telah tiba.

              Tujuh belas tahun adalah tahun dimana remaja akan dikatakan dewasa. Mengapa? Karena di tahun itulah seseorang tersebut akan menerima penghargaan terbesarnya setelah hidup bertahun-tahun—yakni pengakuan oleh negara. Siapa yang menolak sebuah pengakuan?

              Tujuh belas tahun. Musim seminya hati yang memekarkan bunga. Musim pancaroba jiwa yang lemah. Musim gugurnya daun pohon prinsip. Musim eksperimen hasrat dan jiwa. Musim pencipta karakterasistik permanen. Musim dipertaruhkannya diri untuk hidup lebih lama. Dianggap lebih lama lagi untuk dipanggil manusia. Menakutkan!

              Hidupku tak berbeda—sama dengan penelitianku akan manusia. Karena, toh akupun adalah manusia. Buih-buih perasaan romantisme akhirnya jatuh menghantam prinsipku. Hasrat manusia yang ingin dicintai dan mencintai akhirnya tertaruh dalam jiwaku. Bukan kusengaja. Akupun kaget, ketika menyadarinya dan berusaha kuabaikan. Tapi, sanggupkah aku?

              Hidupku dipertaruhkan. ‘Rumit’ kata ini muncul tidak menghancurkan gumamku—malah mempersulitnya. Bagaimana kumempertanggung jawabkannya di depan Allah, orang tuaku, dan diriku sendiri. Apakah ini murni dari hati ini? Aku pernah tersesat dalam pikiranku sendiri. Sebelum nasehat-nasehat itu membuatku memutuskan sesuatu hal yang sulit. Juga mungkin sedikit bubuhan takdir.

              “Jatuh cinta bukan hal yang lumrah. Itu hakikatmu sebagai manusia.” jawab seorang pria paruhbaya.

              “Tapi ingat cinta utama manusia adalah Allah.” jelas wanita muslimah.

              Aku tersenyum pasti. Kupikir, aku telah berdosa besar karena memekarkan bunga dalam relung jiwaku. Allah yang menurunkan perasaan ini, kenapa harus kutolak? Tapi tetap saja kuingin dalam batasan yang bebas dari syahwat. Yaa Rabb kumemohon perlindunganmu.

              Tujuh belas tahun. Apalagi yang spesial di tahun yang katanya manis? Disini peranku akan lebih besar. Karena aku sekarang berlabel dewasa—masih peralihan. Tapi, setidaknya aku akan tercantum sebagai pemilu. Itu bukan pilihan mudah.

              Lalu, peranku terhadap keluargaku. Bisakah kuterus menopang dagu dan menadah telapak tangan di depan orang tuaku? Mana boleh seperti itu? Tapi, kumemohon tunggu aku lulus dulu. Apa yang bisa kulakukan dan membuat mereka bangga? Satu-satunya cara ada masuk peringkat umum sekolah. Itupun sebuah keharusan. Yaa Rabb, kabulkan permohonanku itu. Aamiin.

              Jadi apakah tahun ini benar-benar manis untuk putri sulung sepertiku? Tidak manis, tapi setidaknya masih bisa kutelan saat ini. Meski kadang gumpalan batu amarah membuatku tersedak. 

"Aku mencintai kalian--yang hadir dalam hidupku. Sungguh!"

(Tulipungu/18.06.2015)

             

Wednesday, 17 June 2015

Kamu Dan Jilbabku

https://indahnyahidupku.files.wordpress.com/2010/07/35064_1350601209956_1379130279_30898252_5956098_n.jpg“Kami sekedar manusia. Hanya saja terkadang kami ingin lebih.”-Elsa.

***

Matahari siap siaga menerkam mangsa. Panasnya berhasil membuat orang-orang itu menggeliat sembari bergumam ‘Uhh’. Beberapa dari mereka sibuk menggaruk-garuk kutu yang dengan girang menyedot minuman favoritnya. Mereka tampak gerah—juga kesal—dengan rambut diurai.

‘Astagfirullah’, batinku berucap menyaksikan hiruk-pikuk di depan mata. Wanita berlalu-lalang dengan dress mini. Rambut yang mereka urai tampak mengembang bak roti dalam oven. Sepatu highless tak lepas dari kaki mulus mereka, bahkan setelah sepatu itu melukainya. Ironi memang. Lafas Allah yang tergantung di leher mereka, kuharap itu bukan sekedar hiasan. Karena hanya satu hal itu yang membuatku menyukai mereka.

‘Salahkah diri ini?’, sergah jiwaku. Dia memberontak berusaha ingin tahu jawaban dari hatiku. Kusadar diriku tidak berhenti menyalahkan mereka yang membantah perintah Allah, Tuhanku. Hingga diriku mungkin tiba di titik, dimana aku mulai congkak. Aku mulai menganggap diriku benar karena patuh saat ini. Kulupa untuk tetap bertasbih kepada-Nya. Kuhanya banggakan diriku—padahal diri ini hanyalah titipan dari-Nya. Salah satu kelemahanku adalah menilai diriku. Hanya lafas, ‘Astagfirullah’ yang menyejukkan hatiku.

Aku bukanlah mereka. Akupun tidak seperti mereka. Jilbab terpasang dengan baik menyejukkan kepala—juga menyembunyikan rambutku. Jilbab tak bermodel khas anak sekolah berlabel ‘Rabbani’ itu favoriteku. Bukan labelnya, melainkan bendanya. Bagiku jilbab—yang saat ini melindungiku dari terik sang pemangsa—adalah cinta pertamaku. Tepatnya, aku mencintainya sebelum kukenal Allah, Tuhanku. Aku jatuh cinta padanya, lalu setelah itu kukenal Allah—dan mengangkat-Nya menjadi cinta pertamaku.

***

“Haruskah kupake jilbab itu, bu?”, gumam balita bertitle Elsa.

“Sekarang kau belum harus memakainya. Tapi kau bisa belajar sekarang.”, jawab ibu sedikit tak acuh.

“Untuk apa?”, rasa penasaran itu memorak-porandakan pikiran Elsa. “Jilbab ini terus saja merusak model rambutku. Ini juga bikin gerah.”, gerutunya.

“Kakak-kakakmu juga menggunakannya.”, balas ibu.

“Jadi, elsa harus pake karena kakak-kakak juga pake?”, Elsa mulai kesal.

“Bukan Elsa.”, Sanggah Karin, mendekat dengan kursi rodanya. Wajah Elsa membulat yang artinya dia bingung. “Kau tahu kakak ini tidak punya apa-apakan?”, tanya Karin.

“Kakak masih punya hidup.”, celoteh Elsa sedikit kesal.

“Sebentar lagi kakak akan kehilangannya.”, Karin tertawa, ia membuka kerudungnya. “Tidak sepertimu, kakak bahkan tidak punya rambut.”, Elsa tertegun menelan ludah menyaksikan botak pelontos milik kakak perempuannya.

“Kenapa kakak pake jilbab? Bagi kakak jilbab ini mahkota kakak. Dialah mahkota yang yang menutupi kekurangan kakak. Tidak semua orang bisa menggunakannya, Elsa. Lihat, apakah kau pernah melihat laki-laki menggunakannya?”, Elsa mengangguk. Dia mencermati setiap kata yang keluar dari mulut Karin—dengan seksama.

“Jilbab ini adalah mahkota yang hanya diciptakan untuk wanita—untuk perempuan.”, lanjut Karin, dengan senyuma tiga jarinya. “Dan dengan ini kakak mewariskan mahkota terbaik dari Sang Maha Kuasa kepada adik kakak tersayang, Elsa.”, akhir dia pasangkan kerudung itu menutupi kepala Elsa. Elsa menerimanya sembari tersenyum. Cinta pertamanya dimulai.

***

Siang itu, kuhabiskan duduk di bangku kuliahku. Jurusan kedokteran semester tiga. Kupilih jurusan ini, karena kuberniat menjadi dokter spesialis anak. Awal baik, aku diterima disini sebagai siswi termuda. Masih bukan akhir. Bukan hanya diriku yang muslim disini. Hanya saja, hanya aku yang berhijab.

“Happy birthday, Elsa.”, bisik Stefano yang duduk di bangku belakangku. Aku tak acuh, tak pernah sekalipun mataku meleset dari dua tempat itu. Papan tulis dan buku tulisku. Sebelum Stefano mengacaukanku untuk kedua kalinya.

“Ada yang memanggilmu dari lapangan. Tengoklah!”, aku berbalik. Terpampang di bawahku. Tepatnya terukir di atas lapangan ucapan selamat ulang tahun untukku. Aku sedikit kesal.

‘Berhentilah membuat lelucon aneh! Aku tidak suka.’, tulisku pada selembar kertas dan memberikannya pada Stefano.

“Aku lakukan untukmu.”, suaranya sedikit memelas.

‘Terima kasih. Tapi jangan lakukan lagi!’, balasku pada selembar kertas. Stefano mematung, lalu pandangan kami kembali ke papan tulis. Sesaaat sebelum dia bergumam mengagetkanku, ‘Aku sebenarnya ingin tahu seperti apa duniamu?’.

Kalimat yang mencuri perhatianku.

***

Fajar tetap hadir hari itu. Suara adzan menggema mengantarnya hingga mentari juga masih hadir hari itu. Aku bersyukur. Paling tidak hari itu aku masih bisa bernafas. Hari itu, aku masih merasakan detak jantung dalam rongga dadaku—yang artinya aku masih hidup. Allah masih menginjinkanku untuk hidup dalam belenggu tubuh yang tak berdaya menanti ajal.

Jumat pagi di awal agustus, tidak ada yang berbeda. Diri ini masih bangun dari tumpukan ranjang bertingkat. Suara anak kecil berlarian memecah pagi. Suara ibu panti menggema lebih keras dari adzan membangunkanku. Suara riuh ratusan anak mengantri di depan tiga toilet berukuran kecil. Kesemuanya tak lepas dari dunia pagiku. Aku tak mengelak. Aku juga tak membencinya hingga kuharus mengutuknya. Aku menerimanya sebagai takdir yang harus kuubah dengan menjadi sukses.

“Elsa, bantu ibu bangunkan adikmu!”, perintah itu melantung setelah ibu sadar aku telah bangun. Dengan gesit, kaki ini melangkah dari satu kamar ke kamar yang lain. Bibir ini berceloteh keras dan lebih keras hingga adik-adikku—yang jumlah hampir lima puluh orang—beranjak keluar, wuduh lalu shalat. Aktivitas pagi yang rutin.

***

“Aku berangkat.”, teriakku. Kuambil ransel biruku dan beranjak keluar dari pondok yang mulai sesak akan jiwa. Pengajian rutin setiap pagi akan segera dimulai. “Assalamu alaikum.”, lanjutku.

“Waalaikum mussalam.”, serempak semuanya membalasku.

“Tunggu dulu.”, cega ibu panti. Bulir keringatnya berjatuhan. Kumengerti betapa sibuknya ia, tapi aku tidak bisa apa-apa. Aku menghentikan langkahku. Mimikku seperti menjawab, ‘ada apa?’.

“Kamu lupa hari apa ini?”, mimik ibu panti menjadi serius. Tangannya ia simpan di atas pundakku. Aku mencoba mengingat.

“Tidak ada yang special hari ini, ibu. Hari ini juga akan jadi hari sibuk untukku menyelesaikan skripsiku.”, balasku dan ibu panti mengangkat alis.

“Astagfirullah. Tujuh belas tahun yang lalu, tepat di hari yang sama dengan hari ini, ibu menemukanmu di depan panti. Sekarang kamu ingat?”, jelasnya. Aku mengerti. “Hari ini kamu menjadi remaja berusia tujuh belas tahun.”, lanjutnya.

“Ya. Aku baru ingat. Maaf!”, aku tersenyum.

“Ibu tidak bisa memberimu apa-apa seperti remaja lain. Tapi ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu. Apakah kamu menerima hadiah doa dari ibu?”, ibu panti tersenyum. Wajahnya dipenuhi harap, juga belas kasih. Bagiku, dialah ibu kandungku.

“Apakah aku minta sesuatu dari ibu?”, cibirku. “Aku akan bahagia dengan doa ibu. Terima kasih telah merawatku selama ini.”, ucapku memeluknya.

“Lihatlah modelmu. Apa kamu tidak tahu yang namanya stylist?”, tutur ibu panti. “Kamu tampak cantik dengan model-model jilbab yang lagi nge-trend itu.”, lanjutnya.

“Lagi pula, Allah tidak melihat seseorang dari model jilbabnya. Ini lebih mudah.”, balasku sembari memperbaiki jilbabku yang miring setelah memeluk ibu panti tadi.

“Paling tidak, kamu seharusnya membuat seorang pria menyukaimu.”, gumam ibu panti.

“Allah membenci seseorang yang mendekati zina. Aku hanya akan membuat suamiku nanti yang menyukaiku.”, aku tertawa. Ibu panti mulai mencari-cari alasan.

“Bagaimana kamu menemukan suami dengan cara seperti itu?”

“Dengan izin Allah. Ibu, sudahlah. Lagi pula, aku masih berumur tujuh belas. Aku masih mudah.”, tuturku.

“Kamu tahu. Dengan umurmu yang sekarang, kamu tidak akan mungkin lagi memunyai orang tua. Dulu, seniormu disini menikah di umurmu yang sekarang. Hanya dengan itu kamu punya keluarga.”, ibu panti menjelaskan. Aku mengerti.

“Aku tahu, ibu. Tapi aku masih ingin sekolah dan belajar. Aku pandai di sekolahku dan aku akan membantu ibu menghidupi adik-adik, serta pernikahan beberapa kakak disini.”, aku berucap. “Aku tidak meminta ibu membiayai sekolahku yang memang mahal itu. Aku hanya ingin ibu mengijinkanku tetap disini. Aku mohon.”, ucapku, dan ibu mengangguk, tampak pasrah dengan pernyataanku.

***

“Elsa, apakah dari tadi kau melamun?”, ucap sebangkuku membuyarkan lamunanku. Dia adalah Tania.

“Hah?”, ucapku kaget.

“Wow, ini langkah. Elsa melamun selama pelajaran. Hebat. Siapakah menjadikanmu seperti ini?”, Tania menyinggung.

“Ah, sudah.”, tanpa kusadar, kelas telah selesai. Kelas kedua datang dua jam selanjutnya—masih lama.

“Karena Stefano?”, godanya. Aku membulatkan mata. “Dia menyiapkannya dan sebelum dia mengungkap perasaannya, kau menolaknya. Kau sungguh kejam.”, lanjut Tania.

“Perasaannya?”, aku bodoh—juga telah keliru. Aku pikir.

“Apakah kau tidak tahu, Stefano menyukaimu?”, Tania blak-blakan.

“Aku menyukai semua orang.”, balasku, datar. Aku tidak ingin tenggelam dalam dunia yang mulai menyatu dengan duniaku. Allah SWT. tidak akan pernah mengijinkanku menyukai Stefano, aku bergumam. Duniaku dan dunianya memang berbeda dari awal.

“Sudahlah, Sa. Apa karena perbedaan agama itu lagi? Di dunia ini, itu udah nge-trend kali. Apa salahnya, cuma pacarankan?”, Tania kembali berucap memupuk kesal dan tanyaku.

“Aku hidup bukan untuk itu, Tania. Perbedaan agama? Itu bukan masalah sepele. Aku tidak butuh pacar. Tapi aku butuh imam dalam keluargaku nanti. Sosok yang bisa jadi ayah untukku atau bahkan sebagai ibu. Sosok itu akan jadi suamiku nantinya. Dan mana mungkin orang yang jadi imamku, orang yang bahkan tidak mengenal Allah, Tuhanku.”, aku membalasnya, Tania tertegun menelan ludah.

“Itulah Elsa. Orang yang bisa membuatku diam.”, Tania tertawa, mengundangku untuk tertawa juga. “Elsa, Seperti apa Tuhanmu?”, lanjut Tania.

“Dia sosok pemurah, Maha bijaksana, Maha pengampun, Maha penolong. Dia mencintai hamba-hamba-Nya. Jadi akupun sangat mencintai-Nya. Itu tak cukup untuk mewakili ke agungan-Nya.”, gumamku.

“Adakah sosok yang seperti itu? Lalu mengapa Ia membiarkan orangtuamu membuangmu?”, Pikir Tania.

“Aku meyakininya dengan sepenuh hatiku. Dia membiarkan orangtuaku membuangku, selalu ada alasan dibalik semua itu. Karena Dia ingin mempertemukanku dengan ibuku sekarang, ibu panti. Karena itu juga, sekarang kita saling kenal. Dan karena itulah aku tidak terluka di tengah konflik yang mungkin jadi alasan orangtuaku membuangku. Hebatkan?”, tuturku.

“Dasar! Kau menang lagi.”, gerutu Tania.

“Elsa!”, teriak seseorang. Itu adalah Stefano. “Untuk bisa jadi imammu, bisakah kau memberikanku kesempatan?”, lanjutnya, setelah kumenengok ke arahnya. Kakiku gemetar. Dia tidak membiarkanku menjawabnya, dia lari keluar kelas setelah mengambil ransel miliknya.

“Dia tidak mau ikut kuliah selanjutnya?”, tanya Tania. Aku masih pada posisiku. Kupikir hatiku telah direbut. Sakit rasanya, karena itu adalah dia.

“Prof.Richard punya acara hari ini. Pelajaran di tunda untuk besok. Kalian tidak mendengarnya?”, keluh Retno yang juga sekelasku.

“Oh. Okay. Thanks and bye.”, balas Tania. “Kau tidak apa-apa, Sa?”, tanyanya kepadaku.

“Entah, hanya saja sakit, disini.”, ucapku sembari memegang dadaku. Aku masih kaget. Aku mencoba mencerna kalimat Stefan.

“Tiba-tiba? Apakah itu jantung? Apakah orangtuamu punya sejarah penyakit jantung?”, Tania khawatir. Wajahnya tampak cemas berhasil menyadarkanku.

“Aku mana punya orangtua. Ah, sudah. Ayo pulang!”, gumamku. Tania masih heran.

“Sudah baikan? Padahal aku baru saja mau mengaplikasikan pengetahuanku. Aishh...!”, rengeknya.

***

Tak ada badai hari itu. Tapi hatiku terus bergumam akan ada badai—sebentar lagi. Lama, setelah aku mematung di buat oleh kalimat terakhir Stefano yang dilontarkan untukku. Bahkan masih hangat di telingaku suaranya memantulkan namaku. Kupikir aku hampir saja tenggelam. Atau mungkin aku telah tenggelam—dan saat ini berusaha kembali ke atas. Aku bahkan menjadikan hatiku topik di setiap doaku. Aku memohon untuk di berikan pentunjuk oleh-Nya.

‘Jika dia bukanlah utusan-Mu untuk hidupku, jauhkanlah aku darinya, Ya Allah! Karena aku tak mampu—bahkan tak mungkin—meninggalkan-Mu untuk berada di sisinya.’

Selama hampir sepekan, aku dan Stefano tidak pernah lagi dipertemukan dalam satu kelas. Ajaib. Kusadar inilah jawaban-Nya.

Kecuali hari ini. Kami berdua ditunjuk sebagai utusan sekolah untuk pemeriksaan kesehatan di pantiku. Pemeriksaan kesehatan itu rutin. Tapi ini pertama kali aku ditunjuk sebagai pelaksananya. Bahkan bersama Stefano.

‘Apakah sepekan itu waktu untukku mengintrospeksi diri?’, aku bergumam.

“Berangkatnya satu jam lagi.”, Stefano memulai percakapan. Aku mengangguk—juga menunduk. Tidak berani aku menatap mata abu-abunya. Mata yang hanya sekali kusaksikan, saat Stefano menadahku dari jejatuhan buku perpustakaan dari raknya. Pertemuan pertama kami dengan dosa yang telah kuperbuat. Melihat mata seseorang pria yang bukan mukhrimku.

“Tentang perkataanku sepekan yang lalu, apakah itu memberatkanmu?”, tanya Stefano.

“Ya. Kalimat itu tak pernah mengijinkanku tidur nyenyak.”, balasku.

“Maaf.”, ucap Stefano. Aku menggeleng mengisyaratkan ‘Tidak apa-apa’. Dia masih mencoba menggerakkan mulutnya. Aku was-was.

“Elsa!”, kumemohon untuk tidak mendengar apapun lagi. Entah, hatiku menggeliat. “Maukah kau melepas jilbabmu untukku?”, batinku terguncang. Tubuhku bak dibanting sekian kali. Dan saat aku masih mampu berdiri, kakiku ditendang, lalu diinjak berkali-kali. Aku jatuh, hingga aku tidak kuat untuk berdiri mencuri kekuatan. Aku tenggelam ke dasar hingga, sulit bagiku mencuri nafas. Hanya air kemanjaan yang terjatuh dari pelupuk mataku. Ia jatuh lagi, setelah kupikir ia telah lenyap. Perih. Aku membisu.

“Aku akan lakukan apapun untukmu. Aku janji.”, lanjut Stefano, setelah sadar aku menangis. “Kau mungkin berpikir aku bohong, tapi kau satu-satunya orang yang merebut hatiku. Tapi, aku menyerah, karena tak sanggup mencuri hatimu.”, kalimat mengalir dari mulut Stefano berhasil mencincang jiwaku. Aku berusaha tegar dan mulai berucap.

“Kau mau mendengarku sekali lagi? Setelah itu kurela jika kau tidak mau mendengarku lagi.”, ucapku. Lama, hingga Stefano mengangguk.

“Kau mungkin tak tahu, kalau dalam hatiku kau punya tempat. Di dalam sana, tempatmu berdampingan dengan jilbabku.”, tuturku dan dia menyimak. “Allah, Tuhanku, di posisi pertama, Nabi Muhammad SAW., tepat di urutan kedua. Kemudian jilbabku di posisi ke tiga. Tapi suatu waktu kau juga memasuki hatiku dan duduk tepat di samping jilbabku. Di posisi ketiga. Kau ada disana. Lalu, sekarang kau memintaku melepas jilbabku—yang artinya aku harus membuang cinta ke tigaku. Maka, akupun harus melepasmu.”, lanjutku. Stefano membisu. Dia mengerti maksudku.

“Stefano! Aku tidak butuh apa pun darimu. Aku bahkan tidak meminta secuil pun. Aku juga tidak ingin kau melepas segala sesuatu yang kau miliki untukku. Termasuk mengenal Tuhanku, karena diriku. Jadi, jika kita berdua hanya mampu seperti ini, biarlah seperti ini.”, tuturku.

“Tidakkah kau harus meminta mahar, jika ternyata kuingin melamarmu?”, tanya Stefano. Aku tersenyum. Kuusap air mataku.

“Jika itu harus, mahar yang kuinginkan adalah ke-ISLAMAN mu. Bukan karena diriku. Tapi karena kau yakin dan percaya kepada Allah SWT., Tuhanku dan Tuhanmu—suatu saat.”, simpulku. Kuberanjak dari tempat itu dan mengajaknya ke panti. Dia tersenyum dan mengangguk. Kupikir dia memahami perkataanku.

(Andi Nurfadriani/23:25/26-03-2015)

Terakhir

https://semuacoretan.files.wordpress.com/2013/08/puisi-perpisahan.jpg
 Kilauan matanya menyambar pagiku. Senyumnya terpancar ramah menghangatkan hariku. Tak henti-henti rengkuhan kasih sayangnya menyelimuti setiap nafasku. Kupikir dialah dinding tempatku bersandar. Dialah lampu yang membantuku dalam gelap. Dia adalah kakak yang mungkin egois, jika kuingin dia selalu ada untukku.

              “Pagi, Lili!”sapanya. Tangannya melambai mesra ke arahku. Sementara lenganku terasa kaku. Tidak terpikir olehku betapa berat telapak tanganku hari ini. Aku hanya mengepal tanganku membentuk tinju kecil di samping badanku.

              “Wew. Kalau disapa balas dong!”dia mendekatiku memukul pundakku. Kumulai pamerkan senyum paling manisku. Mulutku masih terbungkam.

              Betapa kuingin hari ini jadi hari terbaik. Matahari bersinar penuh ramah tamah. Awan tak berani muncul di atas kepala. Angin berhembus menerbangkan ujung jilbab—membawa kesejukkan yang berarti. Tapi kutahu hari ini akan jadi hari membosankan. Ketika dia memulai mengucap untaian kalimat penipu. Ketika dia mulai memorak-porandakan jiwa yang terisak. Ketika ucapan perpisahan itu terungkap sudah.

              Hari ini bukanlah hari pertama kami bertemu, tapi hatiku terus berucap meyakinkanku—bahwa ini hari terakhir kami. Siapalah yang tahu kapan ajal menjemput, setelah perpisahan terjadi? Meski untaian kata-kata melankolis mulai melontar janji.

              “Hei. Jangan seperti! Aku hanya sebentar.” Ucapnya, membuatku diriku semakin tak kuat.

***

              “Lili, lulus nanti kamu ingin sekolah dimana?” tanyanya. Perempuan dengan kilauan mata paling menyejukkan itu—bertanya padaku. Aku terdiam memikirkan khayalan-khayalan yang baru saja merasuki pikiranku.

              “Aduh, kak! Tentu akan ada banyak sekolah yang menginginkanku. Aku hanya perlu memilih antara Harvard dan Oxford.” kututup dengan senyum yang memperlihatkan deretan gigiku yang rapi.

              “Amiin.” ucapnya. Aku masih tersenyum.

              “Kalau kakak yah, Aku ingin sekali sekolah ke Jepang. Karena itu kakak belajar bahasa Jepang dengan tekun. Mungkin saja, suatu saat ada durian runtuh yang menimpaku.” jelasnya di selingi canda. Aku penasaran.

              “Jika tiba-tiba kakak punya kesempatan, gimana?” tanyaku.

              “Tentu, aku ambil kesempatan itu. Rejeki tidak boleh ditolak. Kamu takkan pernah tahu kapan dia menghampirimu lagi...” aku menyimak.

              “Lalu, aku akan berusaha keras, mungkin aku juga bisa menetap disana, bekerja disana, dan berkeluarga disana.” simpulnya. Aku tertawa.

              “Jangan tertawa! Aku serius.” ucapnya. Wajahnya benar-benar menampakkan keseriuasan. Aku tahu.

***

              Kubergumam pelan dalam hatiku. ‘Bohong! Kakak bahkan tidak akan kembalikan?’ Tak tega diriku melontarnya, lalu kutahu bahwa kumelukai mimpinya.

              Kesempatan akhirnya menghampirinya. Seperti yang pernah dia katakan, dia menerimanya tanpa ragu. Alasannya sederhana, perempuan—yang masih sama dan sedang berdiri di depanku—adalah sosok yang kukagumi karena semangat dan kejujurannya. Dia tidak pernah mengumbar janji. Dia tidak pernah ragu dengan apa yang dia ucapkan. Dia adalah senior hebat di mataku. Beruntung, dia mengangkatku sebagai sosok yang berarti meski aku hanya junior yang bodoh. Sungguh kubersyukur, dia menamaiku sahabat.

             “Apakah aku akan selalu diabaikan? Aku bahkan jauh-jauh datang kesini untuk bertemu adik kesayanganku.” celotehnya.

              “Ahh, maaf. Kapan berangkat, kak?” balasku.

              “Sore ini. Karena itu aku datang pagi-pagi untuk melihat dirimu...” ungkapnya. “aku penasaran, seperti apa adik kecilku setelah naik kelas. Wew, sekarang kau sudah kelas duabelas. Menghitung bulan, kau akan lulus. Hebatkan?” lanjutnya.

              “Hahahah.. terdengar mudah. Tapi, sayangnya tidak.” balasku sayup-sayup.

              “Ini akan mudah, jika kau pikir mudah. Jangan bebani dirimu. Bagaimanapun sulitnya hari ini, matahari yang terbit akan tetap tenggelam.” godanya. Besok, lusa, besok lusa, hingga hari yang tidak berani kuhitung, aku tidak akan pernah mendengar lagi suara matang itu.

              “Iya juga.” aku tertawa. Kutahu dia sangat bahagia dari sorot wajahnya. Tak mungkin, aku menghentikan kebahagiaan itu dengan menampilkan wajah cengengku. Seperti hari pertama kumengenalnya.

***

              Waktu itu, hari sedang tidak bersahabat. Semua orang tampak mengabaikanku. Semua pelajaran bahkan menolakku. Tidak satupun yang tersenyum ramah menanggapiku—selain tatapan sinis dan ocehan yang merenggut empatiku. Seorang diri aku duduk di bangku panjang dan mulai menerawang langkahku.

              “Salahkah pilihanku? Kumemilih sekolah ini. Kubahkan memilih jurusan ini. Dan sekarang kuharus menanggung dampak semua ini.” celotehku sedikit kesal..

              “Kau tidak salah. Hanya saja kurang tepat.” perempuan dengan mata yang penuh kesejukkan itu menyela ucapanku.

              “Kurang tepat itu sama sajah kalau salahkan? Itulah yang dinamakan konsistensi.” balasku.

              “Lihat, sekarang ucapanmu tepatkan?” rayunya. Aku sedikit kesal.

              “Ini bukanlah kiamat. Untuk apa kau meragukan apa yang telah terjadi dan menyesalkan hal yang bahkan belum kau lalui.” ungkapnya. Aku diam menyimak kalimat demi kalimat yang ia lontarkan.

              “Jika orang lain menghinamu. Maka yang harus kau perbuat adalah buat mereka memujimu suatu saat.” lanjutnya. Aku tersenyum, kusetuju dengannya.

              “Iya juga.” lontarku pelan.

              “Hahahha.. Aku akan jadi partnermu mulai sekarang. Kau murid barukan?” tanyanya dan aku mengangguk. “berarti aku seniormu. Panggil aku kakak.” lanjutnya.

              “Tidak punya nama lengkap?” ucapku.

              “Rasti adinda.” jawabnya. Kami tertawa.

***

              Dia memelukku. Kutak berani menengok wajahnya, karena kupikir air mataku akan tumpah melucutiku.

              “Jadilah anak baik.....”dia berucap.

              ‘Dia masih saja memperlakukanku seperti anak kecil’ batinku.

              “Jangan pernah jadi Lili yang mudah patah semangat.”

              ‘Aku janji, kak..’

              “Aku tidak bisa tidak mengkhawatirkanmu.”

              ‘Sulit untukku, jika kakak tidak ada di sisiku.’

              Dia melepaskan pelukannya. Kusadar air mataku mulai mengalir, dan dia menyaksikannya.

              “Jangan menangis! Karena aku akan menangis juga.” Dia tertawa. Matanya tampak sayu.

              “Aku tidak ingin, tapi ini otomatis.” kuusap air mataku dan menemaninya tertawa.

              “Aku harus pulang persiapkan barang-barangku.” ungkapnya.

              “Aku juga harus masuk kelas sekarang.” balasku, semringah.

              “Jaga dirimu baik-baik.” air matanya melesat cepat. Tapi mataku menangkapnya. Dia mengusapnya.

              “Rasti Adinda. Ganbatte!” ucapku mengangkat tinju kecilku dengan manis.

              Dia tersenyum, lalu perpisahan itu benar-benar terjadi. Dia pergi mengejar mimpinya. Sementara aku tinggal untuk menggapai mimpiku. Kami berpisah, dan entah kapan akan bertemu lagi.

              “Jika kau dengan sigap tersenyum untuk sebuah pertemuan, maka siapkan dirimu untuk tidak menangis pada sebuah perpisahan.” Aku meneguhkan mimpiku.

(By Andi Nurfadriani/For Nursrianti Nawir/19.22/23-04-2015)

Kembalikan Surgaku, Yaa Rabb

http://cdn-2.tstatic.net/banjarmasin/foto/bank/images/ilustrasi-tewas-jua-naha-susah.jpg

“Bangun, Neng! Shalat dulu atuh, nanti bobo lagi.” celoteh ummi lebih keras dari gema adzan subuh. Tapi, putri semata wayangnya masih terbelenggu kantuk parah setelah semalam begadang.

“Nanti, Ummi. Sebentar lagi.” gerutu Anna. Kantuk masih menggerumuti setiap selnya. Ibarat kasurnya mencengkramnya hingga bergerakpun tak sanggup ia lakukan.

“Waktu subuhkan enggak panjang kayak isya. Ayo bangun, keburu pagi." Suara ummi masih melantung membungkam Anna. Anna masih terlelap. Sekarang dia bahkan tidak menyahut. “Punya anak gadis, kok... lambatnya kayak kerbau.” ummi mengomel memasuki kamar Anna. Dia menggoyangkan tubuh Anna pelan, berharap Anna beranjak dari kasurnya.

“Shalat dulu, lalu lanjut bobo lagi. Shalatkan enggak bisa ditunda-tunda atuh, Neng.” dengan sabar, ummi tidak menyerah membangunkan putrinya yang telah mencapai masa baliq.

“Iya, ummi. Anna bangun nih.” Anna beranjak dari kasurnya, lalu menuju ke kamar kecil.

“Jangan tidur disitu juga, ya, Neng!” canda ummi.

“Ummi, bawel.” teriak Anna dan perut ummi terguncang tawa.

***

Kedua jarum jam kini berada di puncak putarannya. Anna dengan sigap menyantap makan siangnya. Hari libur membuatnya malas, dan kini nasi masuk ke lorong perutnya setelah kosong selama hampir enam belas jam.

“Laparkan?” sergah ummi.

“Tidak juga. Hanya saja, mubazir kalau nasi di atas meja ini tidak dimakan.” Anna mencuri alasan. Seketika perutnya berbunyi membela. Ummi tertawa.

“Hehehe. Perutku berbohong.” lanjut Anna. Ummi duduk di depannya.

“Mana ada perut yang berbohong?” celoteh ummi. “Tapi, tidak apa-apa. Tubuh putri ummi selalu menyela kebohongan putri ummi.” lanjut ummi, disambut sneyuman tiga jarinya.

“Ummi.” kesal Anna.

“Kenapa?” ummi mengernyutkan dahi.

“Ummi, buat Anna tidak selera.” Anna menghabisi makanan di depannya dengan sigap, lalu beranjak dari meja makan meninggalkan ummi.

“Bukannya tidak selera, tapi memang sudah habis.” ummi membela diri.

“Apapun, ummi.” balas Anna. “Anna mau pergi jalan-jalan yah, ummi.” teriak Anna, tidak maksud bertanya.

“Siang bolong begini? Jalan-jalan kemana dan sama siapa?” khawatir ummi.

“Sama temen, ummi. Sebentar ajah, kok.” tutur Anna, memasuki kamarnya.

“Tidak tunggu habis Suhur dulu?” balas ummi.

“Nanti kalau udah balik.”

“Kalau begitu, pake jilbab yah!” teriak ummi, di depan kamar putrinya.

“Oke, ummi. Anna berangkat.” celoteh Anna keluar dari kamarnya. Dia dengan segera mencium tangan ummi, dan berjalan menuju pintu keluar.

“Pake rok atuh, Neng! Kalau pake jeans, terlalu ketat.” sergah ummi melihat penampilan putrinya.

“Pake rok rempong, ummi. Anna cuma sebentar saja kok.” tutur Anna, sembari berbalik melihat ummi.

“Tapi...”

“Ummi sudah, Anna berangkat. Bye!” potong Anna.

“Ucap salam!”

“Assalamu alaikum.” teriak Anna.

“Waalaikum mussalam." balas Ummi yang masih siaga dengan raut wajah khawatirnya.

***

Mentari sebentar lagi hilang dari lingkup dunia Anna. Suara musik yang keras membuat telinga Anna tuli. Derai suara adzan di luar ruangan berukuran satu kali dua meter itu hanya terpantul. Anna lupa raut muka khawatir yang tinggalkan pada ummi siang itu. Anna tertawa riang bak hanya ada tempat itu di dunia—tak ada ummi. Anna merasa bebas dari dunia yang mungkin membuat dia tertekan. Dunianya dengan sekolah berjurusan IT dan dunianya dengan ummi. Anna sedang karaoke dengan teman-temannya.

“Jam berapa sekarang?” teriak Anna. Suaranya hanya tenggelam dalam ruangan itu.

“Masih pagi. Tenang saja.” balas Anggi, teman sekelasnya.

“Masih pagi apanya? Kita kesini siang, atuh, Nggi.” oceh Anna sembari mengambil ranselnya dan keluar ruangan.

“Mau kemana? Udah selesai?” teriak Anggi.

“Astagfirullah.” kaget Anna melihat jam di ponselnya. “Sekarang udah magrib, Anggi.” Anna gelisah. Dengan segera ia keluar mencari taksi dan berharap dia akan segera tiba di rumahnya sekarang juga.

Cuaca berubah. Awan bergerumun di atas kepala, dan mungkin akan hujan. Anna masih menunggu taksi lewat dan tidak ada satu pun. Hatinya gelisah. Malam akan segera tiba, dan dia meninggalkan ummi seorang diri di rumah. Dia bersalah.

“Biar Rangga yang antar, Na.” ucap Anggi. Anna tahu bukan itu maksudnya. Dari dulu Anggi menjadi mak comblang Rangga untuk dirinya. Anna menolak.

“Ummi, akan mengomeliku karena pulang bersama laki-laki.” tutur Anna. “Sebentar lagi akan ada taksi lewat kok.” lanjut Anna.

“Biasanya jam segini takkan ada taksi lewat. Selepas Isya baru ada.” Rangga memicing. Kesal menggerumuti tubuh Anna. Dia menyesal keluar rumah hari itu.

“Tunggu sebentar lagi.” Anna kukuh. Dia tahu Rangga bukan laki-laki baik-baik. Ummi akan marah jika dia pulang bersama laki-laki itu. Berdua di mobil, sementara gelap menghampiri.

“Aduh, Lu manja banget sih, Na. Ummi lagi, ummi lagi, apa nggak ada alasan lagi?” Anggi mengomel.

Anna hanya terdiam. Hidupnya memang tidak lepas dari Ummi. Dan detik itu, dia memohon pada dirinya untuk tidak pernah membantah Umminya lagi.

Sekejap yang Anna pikirkan hanya Ummi. Ummi mungkin kuat, tapi dia paling benci sama malam. Ummi mungkin selalu tegar di depan Anna. Tapi Anna tahu pasti, Ummi selalu menangis saat gelap tiba. Dalam pikiran ummi, gelap itu berarti Abbi. Abbi yang dulu selalu memukuli Anna di saat malam karena nakal dan pembantah. Abbi yang dulu menyiksa ummi karena masalah sepele.

Bagi ummi malam itu adalah dosa besar dalam hidupnya. Dosa karena membunuh Abbi, saat abbi menyiksa Anna. Anna masih mengingat jelas kejadian malam itu. Dan kejadian itulah yang menghasut hatinya sekarang—juga umminya.

Lalu haruskah dia menerima tawaran Rangga yang ingin mengantarnya pulang? Hati Anna bergumam.

“Hah... Hafiz.” Teriak Anna. Suaranya meledak, melihat Hafiz teman SMA-nya di perempatan jalan di bawah lampu merah. Dengan sigap dia berlari menuju Hafiz.

“Aku akan pulang bareng Hafiz.” teriaknya berbalik kepada dua temannya yang membisu.

“Aku?” Hafiz kaget. Lelaki berbaju kokoh sehabis ke mesjid itu, hanya terpaku di tempatnya menanti Anna tiba di dekatnya.

“Antar aku pulang! Aku mohon!” keluh Anna. Wajahnya memelas.

“Tapi, aku...” Hafiz ragu sembari memperbaiki kopia di kepalanya yang bahkan masih terpasang dengan baik. Dia merasa berdosa, menatap wajah perempuan yang bukan mukhrimnya.

“Aku tahu aku salah membantah perintah ummiku—dengan keluar rumah dengan pakaian seperti ini. Aku minta maaf. Aku khilaf. Dan kau tahu jugakan kebiasaan ummiku, termasuk ketakutannya saat malam tiba. Jadi, kumohon bisakah kau mengantarku pulang?” celoteh Anna. Dia tampak benar-benar menyesal.

“Kamu masih bisa mengingatkukan?” lanjut Anna, tidak membiarkan Hafiz berkomentar. “Aku Anna, teman SMA-mu. Kamu lupa?” sambungnya.

“Aku ingat. Aku ingat.” balas Hafiz. “Tapi, kamu mau kuantar dengan motor buntutku begini?” lanjutnya semringah.

“Hah, apa yang menurutmu membuatku gensi? Naik bemor saja aku takkan malu.” balas Anna, sembari menaiki motor Hafiz.

Keduanya melincah di tengah jalan ibukota.

***

Terpukau dengan apa yang disaksikannya, mata Anna terbelalak melihat apa yang sedang disaksikannya—di rumahnya. Si jago merah dengan lahap menyatap kediamannya. Tempatnya menata hidup dengan ummi. Berpuluh orang mulai berkerumun sembari melempar air dengan timbah, ember, dan baskom. Beberapa diantara mereka sedang berceloteh saling memerintah untuk menelpon pemadam kebakaran.

Anna masih diam. Kaget menyerang pikirannya hingga air matanya hanya terlinang di kelopaknya—tak berniat untuk terjatuh.

“Apakah ada orang di dalam?” sergah salah satu warga, dan dengan segera Anna menyelinap masuk ke dalam tumpukan kayu bakar—yang sebagian gosong.

Hampir seluruh warga berteriak menghalangi. Tapi tidak ada yang bisa membatasi penyesalan Anna. Sesal karena keluar rumah hari itu. Sesal karena membantah ummi. Sesal hanya tinggal sesal.

Hafiz yang tadinya menenangkan Anna, bahkan tak mampu menampung risau Anna. Dia hanya bisa menunggu hingga api itu redup oleh sang pemadam kebakaran. Hafiz hanya bisa berdoa pada Yang Maha Kuasa agar Anna dan Ummi selamat. Suatu hal yang mustahil untuk sekarang. Tapi tidak akan mustahil dengan izin Allah.

“Ummi. Ummi dengar Anna.” Anna mencari di tengah kerumunan api yang semakin lapar. Tak ada suara. “Ummi, dengar Anna. Maafkan Anna. Ummi dimana?” Air mata itu mungkin jatuh. Tapi tak mungkin untuk menghentikan api yang semakin membesar.

“Ummi....” suara teriakan Anna hanya merekah, setelah kayu penyanggah genteng—yang membara—menjatuhinya. Lalu suara dan pandangannya pun lenyap.

***

Kabur sudah penglihatan Anna. Matanya berusaha menyaksikan apa yang ada di lingkupnya sekarang. Hanya air mata yang tergenang dikelopaknya memberitahu bahwa Ummi telah tiada.

"Engkau mengambil kembali surgaku, Yaa Rabb." ungkap Anna dalam derai doanya.

(Andi Nurfadriani/16.31/05.04.2015)

Sunday, 15 March 2015

Belenggu Hasrat



Tidak bisa kupungkiri malam tetap hadir. Suara jangkrik mulai menggema di telinga. Mereka berteriak satu sama lain. Saling memberitahu bahwa malam telah tiba. Ayam yang sedari tadi beradu paruh satu sama lain mulai tak tampak. Mereka telah masuk dalam kediaman mereka. Akhir yang kutahu ayam-ayam itu akur pada malam hari. Tak terdengar olehku kokokan membunuhnya—seperti yang kudengar sebelum malam tiba. Anehnya, burung masih berkicau meriah. Bukan pagi, tapi sekarang malam. Burung-burung itu berkicau riang dan sangat menggangguku. Bukan kicauan yang bersahabat. Lebih seperti kicauan hendak berburu milik burung hantu. Menakutkan—lebih tepatnya aku takut.


Tidak seperti biasa. malam ini sungguh mencekam bagiku. Diriku hilang entah kemana. Sosok manusia yang sangat kukenal—bahkan lebih dari siapapun—kini lenyap. Aku heran dan tak henti-hentinya kutanyakan pada hati ini. Segumpal darah yang membeku dalam rongga dada ini tak menjawabku. Dia kokoh dan membuatku semakin menjauhinya.

Aku heran—lebih tepatnya aku takut. Diri ini berubah lebih buruk. Manusia yang entah apakah masih bernafas ini menjadi orang yang tak kukenal. Berusaha kuterawan hatinya dan mataku tak dapat melihatnya. Tanganku sulit untuk menggapainya. Dia jauh dan kubiarkan dia menjauh.

Aku takut hidup dalam tubuh ini. Tubuh yang berlagak kuat, tak tahu betapa rentah ia. Aku takut malam ini tetap hadir dan aku tertidur. Lalu saat aku bangun esok, diri ini berubah. Diri ini berubah dan dengan congkaknya mengatakan akulah pemilik jiwa ini. Pada akhirnya, kesempatan itu lari menjauhiku. Tepatnya aku relakan ia pergi.

Apa yang salah pada diri ini? Mengapa ia berbeda, hingga sulit kumemastikan diriku masih ada disini. Kemana memori itu pergi? Mengapa kutak bisa mengingat apapun, hingga kupikir aku berubah. Bahkan jika kumaksakan diriku menjerit. Kucoba untuk memasuki lorong pikiranku. Kusadar—kutak bisa menemukannya.

Semenjak dia marah dengan dirinya. Melonjak terbirit-birit lalu bergumam ia benci dirinya. Lalu, dia benar-benar meninggalkan—hati yang katanya membencinya.

Semakin parah saat orang yang dipanggilnya kakak meninggalkannya. Terlebih ketika orang yang dipanggilnya ibu membohonginya. Dia tidak memercayai dirinya. Bahkan secuil rasa yang mengangah dalam renungan jiwa. Hilang—lenyap seperti air mata yang menenggelamkan mata. Airmata yang menyanyikan rerintikkan nina bobo menidurkan jiwa. Berharap tak bangun esok, hanya agar diri ini tak lenyap oleh bahtara belunggu hasrat.

Dia hanya ingin kebohongan jiwanya tertutup oleh uluran hati. Memukulnya hingga dia tak punya kekuatan untuk jadi orang lain yang tak dia kenal. Tapi uluran itu tak pernah datang. Hanya tamparan dahsyat yang semakin membuat menjadi-jadi. Dia tetap berubah. Lalu kuingin dia lenyap hingga dia tak punya alasan untuk jadi berbeda.

“Kumohon bisakah kamu menyelamatkan jiwa terpenjara ini? Kakak, kembalilah! Ibu, mengertilah! Kalau jiwa yang kau kira baja ini, sekedar kain yang telah kau porak-porandakan. Kuingin berhenti menyalahkanmu. Kuingin berhenti menyalahkan diriku.”-tulipungu..

(Tulipungu/19.46/15-03-2015)