Wednesday, 17 June 2015

Terakhir

https://semuacoretan.files.wordpress.com/2013/08/puisi-perpisahan.jpg
 Kilauan matanya menyambar pagiku. Senyumnya terpancar ramah menghangatkan hariku. Tak henti-henti rengkuhan kasih sayangnya menyelimuti setiap nafasku. Kupikir dialah dinding tempatku bersandar. Dialah lampu yang membantuku dalam gelap. Dia adalah kakak yang mungkin egois, jika kuingin dia selalu ada untukku.

              “Pagi, Lili!”sapanya. Tangannya melambai mesra ke arahku. Sementara lenganku terasa kaku. Tidak terpikir olehku betapa berat telapak tanganku hari ini. Aku hanya mengepal tanganku membentuk tinju kecil di samping badanku.

              “Wew. Kalau disapa balas dong!”dia mendekatiku memukul pundakku. Kumulai pamerkan senyum paling manisku. Mulutku masih terbungkam.

              Betapa kuingin hari ini jadi hari terbaik. Matahari bersinar penuh ramah tamah. Awan tak berani muncul di atas kepala. Angin berhembus menerbangkan ujung jilbab—membawa kesejukkan yang berarti. Tapi kutahu hari ini akan jadi hari membosankan. Ketika dia memulai mengucap untaian kalimat penipu. Ketika dia mulai memorak-porandakan jiwa yang terisak. Ketika ucapan perpisahan itu terungkap sudah.

              Hari ini bukanlah hari pertama kami bertemu, tapi hatiku terus berucap meyakinkanku—bahwa ini hari terakhir kami. Siapalah yang tahu kapan ajal menjemput, setelah perpisahan terjadi? Meski untaian kata-kata melankolis mulai melontar janji.

              “Hei. Jangan seperti! Aku hanya sebentar.” Ucapnya, membuatku diriku semakin tak kuat.

***

              “Lili, lulus nanti kamu ingin sekolah dimana?” tanyanya. Perempuan dengan kilauan mata paling menyejukkan itu—bertanya padaku. Aku terdiam memikirkan khayalan-khayalan yang baru saja merasuki pikiranku.

              “Aduh, kak! Tentu akan ada banyak sekolah yang menginginkanku. Aku hanya perlu memilih antara Harvard dan Oxford.” kututup dengan senyum yang memperlihatkan deretan gigiku yang rapi.

              “Amiin.” ucapnya. Aku masih tersenyum.

              “Kalau kakak yah, Aku ingin sekali sekolah ke Jepang. Karena itu kakak belajar bahasa Jepang dengan tekun. Mungkin saja, suatu saat ada durian runtuh yang menimpaku.” jelasnya di selingi canda. Aku penasaran.

              “Jika tiba-tiba kakak punya kesempatan, gimana?” tanyaku.

              “Tentu, aku ambil kesempatan itu. Rejeki tidak boleh ditolak. Kamu takkan pernah tahu kapan dia menghampirimu lagi...” aku menyimak.

              “Lalu, aku akan berusaha keras, mungkin aku juga bisa menetap disana, bekerja disana, dan berkeluarga disana.” simpulnya. Aku tertawa.

              “Jangan tertawa! Aku serius.” ucapnya. Wajahnya benar-benar menampakkan keseriuasan. Aku tahu.

***

              Kubergumam pelan dalam hatiku. ‘Bohong! Kakak bahkan tidak akan kembalikan?’ Tak tega diriku melontarnya, lalu kutahu bahwa kumelukai mimpinya.

              Kesempatan akhirnya menghampirinya. Seperti yang pernah dia katakan, dia menerimanya tanpa ragu. Alasannya sederhana, perempuan—yang masih sama dan sedang berdiri di depanku—adalah sosok yang kukagumi karena semangat dan kejujurannya. Dia tidak pernah mengumbar janji. Dia tidak pernah ragu dengan apa yang dia ucapkan. Dia adalah senior hebat di mataku. Beruntung, dia mengangkatku sebagai sosok yang berarti meski aku hanya junior yang bodoh. Sungguh kubersyukur, dia menamaiku sahabat.

             “Apakah aku akan selalu diabaikan? Aku bahkan jauh-jauh datang kesini untuk bertemu adik kesayanganku.” celotehnya.

              “Ahh, maaf. Kapan berangkat, kak?” balasku.

              “Sore ini. Karena itu aku datang pagi-pagi untuk melihat dirimu...” ungkapnya. “aku penasaran, seperti apa adik kecilku setelah naik kelas. Wew, sekarang kau sudah kelas duabelas. Menghitung bulan, kau akan lulus. Hebatkan?” lanjutnya.

              “Hahahah.. terdengar mudah. Tapi, sayangnya tidak.” balasku sayup-sayup.

              “Ini akan mudah, jika kau pikir mudah. Jangan bebani dirimu. Bagaimanapun sulitnya hari ini, matahari yang terbit akan tetap tenggelam.” godanya. Besok, lusa, besok lusa, hingga hari yang tidak berani kuhitung, aku tidak akan pernah mendengar lagi suara matang itu.

              “Iya juga.” aku tertawa. Kutahu dia sangat bahagia dari sorot wajahnya. Tak mungkin, aku menghentikan kebahagiaan itu dengan menampilkan wajah cengengku. Seperti hari pertama kumengenalnya.

***

              Waktu itu, hari sedang tidak bersahabat. Semua orang tampak mengabaikanku. Semua pelajaran bahkan menolakku. Tidak satupun yang tersenyum ramah menanggapiku—selain tatapan sinis dan ocehan yang merenggut empatiku. Seorang diri aku duduk di bangku panjang dan mulai menerawang langkahku.

              “Salahkah pilihanku? Kumemilih sekolah ini. Kubahkan memilih jurusan ini. Dan sekarang kuharus menanggung dampak semua ini.” celotehku sedikit kesal..

              “Kau tidak salah. Hanya saja kurang tepat.” perempuan dengan mata yang penuh kesejukkan itu menyela ucapanku.

              “Kurang tepat itu sama sajah kalau salahkan? Itulah yang dinamakan konsistensi.” balasku.

              “Lihat, sekarang ucapanmu tepatkan?” rayunya. Aku sedikit kesal.

              “Ini bukanlah kiamat. Untuk apa kau meragukan apa yang telah terjadi dan menyesalkan hal yang bahkan belum kau lalui.” ungkapnya. Aku diam menyimak kalimat demi kalimat yang ia lontarkan.

              “Jika orang lain menghinamu. Maka yang harus kau perbuat adalah buat mereka memujimu suatu saat.” lanjutnya. Aku tersenyum, kusetuju dengannya.

              “Iya juga.” lontarku pelan.

              “Hahahha.. Aku akan jadi partnermu mulai sekarang. Kau murid barukan?” tanyanya dan aku mengangguk. “berarti aku seniormu. Panggil aku kakak.” lanjutnya.

              “Tidak punya nama lengkap?” ucapku.

              “Rasti adinda.” jawabnya. Kami tertawa.

***

              Dia memelukku. Kutak berani menengok wajahnya, karena kupikir air mataku akan tumpah melucutiku.

              “Jadilah anak baik.....”dia berucap.

              ‘Dia masih saja memperlakukanku seperti anak kecil’ batinku.

              “Jangan pernah jadi Lili yang mudah patah semangat.”

              ‘Aku janji, kak..’

              “Aku tidak bisa tidak mengkhawatirkanmu.”

              ‘Sulit untukku, jika kakak tidak ada di sisiku.’

              Dia melepaskan pelukannya. Kusadar air mataku mulai mengalir, dan dia menyaksikannya.

              “Jangan menangis! Karena aku akan menangis juga.” Dia tertawa. Matanya tampak sayu.

              “Aku tidak ingin, tapi ini otomatis.” kuusap air mataku dan menemaninya tertawa.

              “Aku harus pulang persiapkan barang-barangku.” ungkapnya.

              “Aku juga harus masuk kelas sekarang.” balasku, semringah.

              “Jaga dirimu baik-baik.” air matanya melesat cepat. Tapi mataku menangkapnya. Dia mengusapnya.

              “Rasti Adinda. Ganbatte!” ucapku mengangkat tinju kecilku dengan manis.

              Dia tersenyum, lalu perpisahan itu benar-benar terjadi. Dia pergi mengejar mimpinya. Sementara aku tinggal untuk menggapai mimpiku. Kami berpisah, dan entah kapan akan bertemu lagi.

              “Jika kau dengan sigap tersenyum untuk sebuah pertemuan, maka siapkan dirimu untuk tidak menangis pada sebuah perpisahan.” Aku meneguhkan mimpiku.

(By Andi Nurfadriani/For Nursrianti Nawir/19.22/23-04-2015)

SOROT

 http://kashif-ali.com/wp-content/uploads/2012/07/namaz.jpg

Diri bergumam
Wajah biru membeku
Mata merah membara
Rambut pecah terbakar
Kulit kasar mengerut
Tangan dingin bergetar
Kaki remuk gemetar
Berharap pergi
Dari tempat itu sekarang
Keluar dari sorotan

(AndiNurfadriani)

Di atas Sajadah (Puisi)




Menyambung rayuan
Menyimpul lidah
Menyibak nestapa
Kucoba rebut perhatian

Mengalungkan diri dalam naungan
Membentang asa penantian
Merebam jiwa pada harapan
Kuterbangkan jauh

Melankolis tak usai
Tangis tak jua
Membumbung mimpi
Meski membuang muka

Ingin ditengok
Diterawang hatinya
Dihapus permata di pipinya
Dengan zikir yang tak henti

Di atas sajadah
Kucipta pondasi
Di atas sajadah
Kubangun rumah

Rumah tempat tuk datang
Rumah titik tumpuan
Rumah pengakuan
Melepas dunia yang membelakangi

Di atas sajadah
Kuucap permohonan
Di atas sajadah
Kujemput berkah

Yang akhirnya punya keberanian
Mengembalikan tujuan
Untuk bersama-Mu
Yaa Rabb.

Maafkan diri yang terbuai pemberian-Mu
Tapi, diriku masih melontar permintaan
Izinkanku bertemu Ramadhan-Mu
Untuk membayar hutang terbesarku
Setahun lagi, hingga bertahun-tahun sudah.

(Andi Nurfadriani/18.49/08.06.2015)
https://akmalarafat.files.wordpress.com/2014/05/aisyah.jpg

Kembalikan Surgaku, Yaa Rabb

http://cdn-2.tstatic.net/banjarmasin/foto/bank/images/ilustrasi-tewas-jua-naha-susah.jpg

“Bangun, Neng! Shalat dulu atuh, nanti bobo lagi.” celoteh ummi lebih keras dari gema adzan subuh. Tapi, putri semata wayangnya masih terbelenggu kantuk parah setelah semalam begadang.

“Nanti, Ummi. Sebentar lagi.” gerutu Anna. Kantuk masih menggerumuti setiap selnya. Ibarat kasurnya mencengkramnya hingga bergerakpun tak sanggup ia lakukan.

“Waktu subuhkan enggak panjang kayak isya. Ayo bangun, keburu pagi." Suara ummi masih melantung membungkam Anna. Anna masih terlelap. Sekarang dia bahkan tidak menyahut. “Punya anak gadis, kok... lambatnya kayak kerbau.” ummi mengomel memasuki kamar Anna. Dia menggoyangkan tubuh Anna pelan, berharap Anna beranjak dari kasurnya.

“Shalat dulu, lalu lanjut bobo lagi. Shalatkan enggak bisa ditunda-tunda atuh, Neng.” dengan sabar, ummi tidak menyerah membangunkan putrinya yang telah mencapai masa baliq.

“Iya, ummi. Anna bangun nih.” Anna beranjak dari kasurnya, lalu menuju ke kamar kecil.

“Jangan tidur disitu juga, ya, Neng!” canda ummi.

“Ummi, bawel.” teriak Anna dan perut ummi terguncang tawa.

***

Kedua jarum jam kini berada di puncak putarannya. Anna dengan sigap menyantap makan siangnya. Hari libur membuatnya malas, dan kini nasi masuk ke lorong perutnya setelah kosong selama hampir enam belas jam.

“Laparkan?” sergah ummi.

“Tidak juga. Hanya saja, mubazir kalau nasi di atas meja ini tidak dimakan.” Anna mencuri alasan. Seketika perutnya berbunyi membela. Ummi tertawa.

“Hehehe. Perutku berbohong.” lanjut Anna. Ummi duduk di depannya.

“Mana ada perut yang berbohong?” celoteh ummi. “Tapi, tidak apa-apa. Tubuh putri ummi selalu menyela kebohongan putri ummi.” lanjut ummi, disambut sneyuman tiga jarinya.

“Ummi.” kesal Anna.

“Kenapa?” ummi mengernyutkan dahi.

“Ummi, buat Anna tidak selera.” Anna menghabisi makanan di depannya dengan sigap, lalu beranjak dari meja makan meninggalkan ummi.

“Bukannya tidak selera, tapi memang sudah habis.” ummi membela diri.

“Apapun, ummi.” balas Anna. “Anna mau pergi jalan-jalan yah, ummi.” teriak Anna, tidak maksud bertanya.

“Siang bolong begini? Jalan-jalan kemana dan sama siapa?” khawatir ummi.

“Sama temen, ummi. Sebentar ajah, kok.” tutur Anna, memasuki kamarnya.

“Tidak tunggu habis Suhur dulu?” balas ummi.

“Nanti kalau udah balik.”

“Kalau begitu, pake jilbab yah!” teriak ummi, di depan kamar putrinya.

“Oke, ummi. Anna berangkat.” celoteh Anna keluar dari kamarnya. Dia dengan segera mencium tangan ummi, dan berjalan menuju pintu keluar.

“Pake rok atuh, Neng! Kalau pake jeans, terlalu ketat.” sergah ummi melihat penampilan putrinya.

“Pake rok rempong, ummi. Anna cuma sebentar saja kok.” tutur Anna, sembari berbalik melihat ummi.

“Tapi...”

“Ummi sudah, Anna berangkat. Bye!” potong Anna.

“Ucap salam!”

“Assalamu alaikum.” teriak Anna.

“Waalaikum mussalam." balas Ummi yang masih siaga dengan raut wajah khawatirnya.

***

Mentari sebentar lagi hilang dari lingkup dunia Anna. Suara musik yang keras membuat telinga Anna tuli. Derai suara adzan di luar ruangan berukuran satu kali dua meter itu hanya terpantul. Anna lupa raut muka khawatir yang tinggalkan pada ummi siang itu. Anna tertawa riang bak hanya ada tempat itu di dunia—tak ada ummi. Anna merasa bebas dari dunia yang mungkin membuat dia tertekan. Dunianya dengan sekolah berjurusan IT dan dunianya dengan ummi. Anna sedang karaoke dengan teman-temannya.

“Jam berapa sekarang?” teriak Anna. Suaranya hanya tenggelam dalam ruangan itu.

“Masih pagi. Tenang saja.” balas Anggi, teman sekelasnya.

“Masih pagi apanya? Kita kesini siang, atuh, Nggi.” oceh Anna sembari mengambil ranselnya dan keluar ruangan.

“Mau kemana? Udah selesai?” teriak Anggi.

“Astagfirullah.” kaget Anna melihat jam di ponselnya. “Sekarang udah magrib, Anggi.” Anna gelisah. Dengan segera ia keluar mencari taksi dan berharap dia akan segera tiba di rumahnya sekarang juga.

Cuaca berubah. Awan bergerumun di atas kepala, dan mungkin akan hujan. Anna masih menunggu taksi lewat dan tidak ada satu pun. Hatinya gelisah. Malam akan segera tiba, dan dia meninggalkan ummi seorang diri di rumah. Dia bersalah.

“Biar Rangga yang antar, Na.” ucap Anggi. Anna tahu bukan itu maksudnya. Dari dulu Anggi menjadi mak comblang Rangga untuk dirinya. Anna menolak.

“Ummi, akan mengomeliku karena pulang bersama laki-laki.” tutur Anna. “Sebentar lagi akan ada taksi lewat kok.” lanjut Anna.

“Biasanya jam segini takkan ada taksi lewat. Selepas Isya baru ada.” Rangga memicing. Kesal menggerumuti tubuh Anna. Dia menyesal keluar rumah hari itu.

“Tunggu sebentar lagi.” Anna kukuh. Dia tahu Rangga bukan laki-laki baik-baik. Ummi akan marah jika dia pulang bersama laki-laki itu. Berdua di mobil, sementara gelap menghampiri.

“Aduh, Lu manja banget sih, Na. Ummi lagi, ummi lagi, apa nggak ada alasan lagi?” Anggi mengomel.

Anna hanya terdiam. Hidupnya memang tidak lepas dari Ummi. Dan detik itu, dia memohon pada dirinya untuk tidak pernah membantah Umminya lagi.

Sekejap yang Anna pikirkan hanya Ummi. Ummi mungkin kuat, tapi dia paling benci sama malam. Ummi mungkin selalu tegar di depan Anna. Tapi Anna tahu pasti, Ummi selalu menangis saat gelap tiba. Dalam pikiran ummi, gelap itu berarti Abbi. Abbi yang dulu selalu memukuli Anna di saat malam karena nakal dan pembantah. Abbi yang dulu menyiksa ummi karena masalah sepele.

Bagi ummi malam itu adalah dosa besar dalam hidupnya. Dosa karena membunuh Abbi, saat abbi menyiksa Anna. Anna masih mengingat jelas kejadian malam itu. Dan kejadian itulah yang menghasut hatinya sekarang—juga umminya.

Lalu haruskah dia menerima tawaran Rangga yang ingin mengantarnya pulang? Hati Anna bergumam.

“Hah... Hafiz.” Teriak Anna. Suaranya meledak, melihat Hafiz teman SMA-nya di perempatan jalan di bawah lampu merah. Dengan sigap dia berlari menuju Hafiz.

“Aku akan pulang bareng Hafiz.” teriaknya berbalik kepada dua temannya yang membisu.

“Aku?” Hafiz kaget. Lelaki berbaju kokoh sehabis ke mesjid itu, hanya terpaku di tempatnya menanti Anna tiba di dekatnya.

“Antar aku pulang! Aku mohon!” keluh Anna. Wajahnya memelas.

“Tapi, aku...” Hafiz ragu sembari memperbaiki kopia di kepalanya yang bahkan masih terpasang dengan baik. Dia merasa berdosa, menatap wajah perempuan yang bukan mukhrimnya.

“Aku tahu aku salah membantah perintah ummiku—dengan keluar rumah dengan pakaian seperti ini. Aku minta maaf. Aku khilaf. Dan kau tahu jugakan kebiasaan ummiku, termasuk ketakutannya saat malam tiba. Jadi, kumohon bisakah kau mengantarku pulang?” celoteh Anna. Dia tampak benar-benar menyesal.

“Kamu masih bisa mengingatkukan?” lanjut Anna, tidak membiarkan Hafiz berkomentar. “Aku Anna, teman SMA-mu. Kamu lupa?” sambungnya.

“Aku ingat. Aku ingat.” balas Hafiz. “Tapi, kamu mau kuantar dengan motor buntutku begini?” lanjutnya semringah.

“Hah, apa yang menurutmu membuatku gensi? Naik bemor saja aku takkan malu.” balas Anna, sembari menaiki motor Hafiz.

Keduanya melincah di tengah jalan ibukota.

***

Terpukau dengan apa yang disaksikannya, mata Anna terbelalak melihat apa yang sedang disaksikannya—di rumahnya. Si jago merah dengan lahap menyatap kediamannya. Tempatnya menata hidup dengan ummi. Berpuluh orang mulai berkerumun sembari melempar air dengan timbah, ember, dan baskom. Beberapa diantara mereka sedang berceloteh saling memerintah untuk menelpon pemadam kebakaran.

Anna masih diam. Kaget menyerang pikirannya hingga air matanya hanya terlinang di kelopaknya—tak berniat untuk terjatuh.

“Apakah ada orang di dalam?” sergah salah satu warga, dan dengan segera Anna menyelinap masuk ke dalam tumpukan kayu bakar—yang sebagian gosong.

Hampir seluruh warga berteriak menghalangi. Tapi tidak ada yang bisa membatasi penyesalan Anna. Sesal karena keluar rumah hari itu. Sesal karena membantah ummi. Sesal hanya tinggal sesal.

Hafiz yang tadinya menenangkan Anna, bahkan tak mampu menampung risau Anna. Dia hanya bisa menunggu hingga api itu redup oleh sang pemadam kebakaran. Hafiz hanya bisa berdoa pada Yang Maha Kuasa agar Anna dan Ummi selamat. Suatu hal yang mustahil untuk sekarang. Tapi tidak akan mustahil dengan izin Allah.

“Ummi. Ummi dengar Anna.” Anna mencari di tengah kerumunan api yang semakin lapar. Tak ada suara. “Ummi, dengar Anna. Maafkan Anna. Ummi dimana?” Air mata itu mungkin jatuh. Tapi tak mungkin untuk menghentikan api yang semakin membesar.

“Ummi....” suara teriakan Anna hanya merekah, setelah kayu penyanggah genteng—yang membara—menjatuhinya. Lalu suara dan pandangannya pun lenyap.

***

Kabur sudah penglihatan Anna. Matanya berusaha menyaksikan apa yang ada di lingkupnya sekarang. Hanya air mata yang tergenang dikelopaknya memberitahu bahwa Ummi telah tiada.

"Engkau mengambil kembali surgaku, Yaa Rabb." ungkap Anna dalam derai doanya.

(Andi Nurfadriani/16.31/05.04.2015)

Sunday, 15 March 2015

Belenggu Hasrat



Tidak bisa kupungkiri malam tetap hadir. Suara jangkrik mulai menggema di telinga. Mereka berteriak satu sama lain. Saling memberitahu bahwa malam telah tiba. Ayam yang sedari tadi beradu paruh satu sama lain mulai tak tampak. Mereka telah masuk dalam kediaman mereka. Akhir yang kutahu ayam-ayam itu akur pada malam hari. Tak terdengar olehku kokokan membunuhnyaseperti yang kudengar sebelum malam tiba. Anehnya, burung masih berkicau meriah. Bukan pagi, tapi sekarang malam. Burung-burung itu berkicau riang dan sangat menggangguku. Bukan kicauan yang bersahabat. Lebih seperti kicauan hendak berburu milik burung hantu. Menakutkanlebih tepatnya aku takut.


Tidak seperti biasa. malam ini sungguh mencekam bagiku. Diriku hilang entah kemana. Sosok manusia yang sangat kukenalbahkan lebih dari siapapunkini lenyap. Aku heran dan tak henti-hentinya kutanyakan pada hati ini. Segumpal darah yang membeku dalam rongga dada ini tak menjawabku. Dia kokoh dan membuatku semakin menjauhinya.

Aku heranlebih tepatnya aku takut. Diri ini berubah lebih buruk. Manusia yang entah apakah masih bernafas ini menjadi orang yang tak kukenal. Berusaha kuterawan hatinya dan mataku tak dapat melihatnya. Tanganku sulit untuk menggapainya. Dia jauh dan kubiarkan dia menjauh.

Aku takut hidup dalam tubuh ini. Tubuh yang berlagak kuat, tak tahu betapa rentah ia. Aku takut malam ini tetap hadir dan aku tertidur. Lalu saat aku bangun esok, diri ini berubah. Diri ini berubah dan dengan congkaknya mengatakan akulah pemilik jiwa ini. Pada akhirnya, kesempatan itu lari menjauhiku. Tepatnya aku relakan ia pergi.

Apa yang salah pada diri ini? Mengapa ia berbeda, hingga sulit kumemastikan diriku masih ada disini. Kemana memori itu pergi? Mengapa kutak bisa mengingat apapun, hingga kupikir aku berubah. Bahkan jika kumaksakan diriku menjerit. Kucoba untuk memasuki lorong pikiranku. Kusadarkutak bisa menemukannya.

Semenjak dia marah dengan dirinya. Melonjak terbirit-birit lalu bergumam ia benci dirinya. Lalu, dia benar-benar meninggalkanhati yang katanya membencinya.

Semakin parah saat orang yang dipanggilnya kakak meninggalkannya. Terlebih ketika orang yang dipanggilnya ibu membohonginya. Dia tidak memercayai dirinya. Bahkan secuil rasa yang mengangah dalam renungan jiwa. Hilanglenyap seperti air mata yang menenggelamkan mata. Airmata yang menyanyikan rerintikkan nina bobo menidurkan jiwa. Berharap tak bangun esok, hanya agar diri ini tak lenyap oleh bahtara belunggu hasrat.

Dia hanya ingin kebohongan jiwanya tertutup oleh uluran hati. Memukulnya hingga dia tak punya kekuatan untuk jadi orang lain yang tak dia kenal. Tapi uluran itu tak pernah datang. Hanya tamparan dahsyat yang semakin membuat menjadi-jadi. Dia tetap berubah. Lalu kuingin dia lenyap hingga dia tak punya alasan untuk jadi berbeda.

“Kumohon bisakah kamu menyelamatkan jiwa terpenjara ini? Kakak, kembalilah! Ibu, mengertilah! Kalau jiwa yang kau kira baja ini, sekedar kain yang telah kau porak-porandakan. Kuingin berhenti menyalahkanmu. Kuingin berhenti menyalahkan diriku.”-tulipungu..

(Tulipungu/19.46/15-03-2015)

PENGAKUAN



"Itulah senyuman se-hangat mentari dan mata se-dingin es."-

Meski diri ini takut. Diri ini tak mampu bertindak sesuai kemauannya. Diri ini bahkan tak bisa memegang senjata. Dia bertingkah egois ingin menjadi teman dia.

“Terima aku menjadi temanmu. Kumohon!"-