Jumat, 03 Oktober 2014

CERPEN : PASUKAN GEMBALA KEMBAR


UDARA MALAM yang hangat terasa lembab dan menggantung di atas kota seperti selembar lap basah. Malam sudah sangat larut. Sudah lewat tengah malam, dan satu-satunya suara yang terdengar adalah suara jangkrik diselingi suara burung hantu. Namun dua balita itu masih terjaga. Keduanya masih kokoh memainkan jejemari mereka. Hanya dua puluh jari-jari itu, dan keduanya tertawa terbahak-bahak. Sesekali mereka memegang perut yang terguncang karena virus tawa yang menyelimuti tubuh mereka. Entah, ada apa dengan jari-jari itu?
***
            Hamparan tanah lapang terpampang jauh ke depan batas pandangan yang bak takkan berakhir. Suara naungan puluhan sapi menyelinap masuk ke gendang telinga, berbunyi u panjang. Bagai bersorak bagi dua pemimpin mereka yang berdiri kokoh membacakan sebuah pidato.
            “Bagi saudara-saudaraku. Kita akan memulai penjelajahan kita.”,teriakan semangat laki-laki gendut, membuat tanah lapang itu berisik, berseru, mengobarkan semangat merah putih mereka. Laki-laki itu menutup pidato singkatnya dengan senyum simpul yang membuat sapi betina mengedipkan mata.
            “Penjelejahan itu apa?”,tanya sang adik, sembari memonyongkan bibir, tampak polos.
            “Jalan-jalan dan bermain-main.”bisik kakak, agar pasukannya tidak mendengar kebodohan sang adik.
            “Selu dong.”,ucap sang adik unjuk gigi, memperlihatkan giginya yang berkarat.
            “Tentu. Tapi bukan hanya sekedar selu, kita akan membuat keajaiban di dunia ini.”,jelas sang kakak, dengan semangat yang masih berkobar. Berharap pasukan sapinya bersiap menurunkan sikap semangat pantang menyerah miliknya.
            “Aku akan jadi pengawal setia Kak.Gege.”,gumam sang adik mengangkat tinju mungilnya. Sepertinya semangat sang jenderal bernama Gege itu, telah menurun kepada sang adik. Juga ke- pasukan-pasukannya.
            “Baik. Tapi Dede’ harus bisa jaga diri.”,nasehat Gege.
            “Ote.”,gumam adik mengangkat telunjuk sebagai tanda mereka mulai berjalan.
            Perjalanan yang tak kenal lelah itu, membawa mereka ke gerbang sebuah rumah mewah. Dilihatnya seekor kuncing dan tikus yang berkeliaran, saling berkejar-kejaran, hingga saling memukuli dengan wajan. Tentu kucing yang mengejar tikus. Sementara tikus yang terdesak mulai melempar berbagai benda untuk menghalangi langkah si kucing.
 http://mutiarakatadangambargambar.com/wp-content/uploads/2013/03/gambar-kartun-20-580x435.jpg
            “Tunggu !”teriak Gege, menghentikan permainan kejar-kejaran si Kucing dan Tikus.
            “Belhenti !”,ikut Dede’ menghentikan kucing dan tikus itu.
            “Kalian memanggilku?”,tanya kucing dengan wajan di tangannya.
            “Siapa lagi?”,balas Gege’.
            “Ada apa?”,si Tikus pun ikut berucap.
            “Siapa nama kalian?”,tanya Dede’, penasaran.
            “Tom.”,ucap kucing
            “Jerry.”,jawab Tikus.
            “Mengapa kalian berlarian?”,tanya Gege’.
            “Dia mencuri makananku.”,jawab Tom.
            “Dia tak membiarkanku memakan keju, meski sedikitpun.”,rengek si Jerry.
            “Belbagi itu baik.”,gumam Dede’.
            Meski kalian berbeda dan tidak mungkin bersatu, cobalah untuk hidup berdampingan.”,nasehat Gege’ sembari mengambil keju itu, dan membaginya menjadi dua. Kucing dan tikus itu hanya bingung dan saling bertatapan. Kemudian tersenyum, dengan bermaksud setuju.
            “Kalian tahu tempat ini?”,tanya Dede’ memperlihatkan sebuah peta indah yang terukir di atas selembar kertas. Keduanya saling menggelengkan kepala, dan artinya pasukan Gege dan Dede’ itu harus melanjtukan perjalanan mereka lagi.
            Perjalanan mereka berlanjut. Peluh menetes, tapi tubuh mereka masih terbakar semangat. Kadang mereka bersenandung merdu, sembari mencari tempat yang tertera di atas selembar kertas yang digenggam kuat oleh jejemari mungilnya. Hingga masuk ke dalam laut. Daratan mungkin telah dijelajah oleh tapak kaki mereka. Tinggal lautan. Dalam dinginnya air, sejalan dengan aliran arus, tertimbun sebuah kehidupan. Disanakah tempatnya? Batin bergumam pelan. Menyelam menuju tiga rumah lucu yang berjejer. Rumah nanas, rumah wajah, dan rumah batu. Sang pemilik sedang bercengkrama di depan rumah, tepatnya di jalan setapak menuju tempat bernama KrustiKrab
http://aws-dist.brta.in/2012-11/5f0beffe06c6028678a979302a13a471.jpg
            “Kau jangan mengganguku, bodoh!”,teriak sang Gurita.
            “Ayo menangkap ubur !”,ajak si Spons kuning itu, sembari tersenyum memperlihatkan dua gigi depannya yang besar.
            “Aku ingin menghabiskan hari mingguku tanpa kalian berdua. Paham?”,amarah si Gurita itu membara. Meski dua teman di depannya masih kokoh dengan senyum masamnya yang terabaikan.
            “Padang ubur-ubur. Padang ubur-ubur.”,girang si Bintang laut merah muda, sembari berlarian mengelilingi sang Gurita, yang bagai akan meledak sekarang juga.
            “Permisi.”,sapa Gege.
            “Kalian sedang apa?”,tanya Dede’.
            “Orang bodoh itu menggangguku.”,kesal Gurita.
            “Berburu ubur-ubur.”,ucap si spons kuning, dengan jaring ubur-ubur yang tampak berkilauan dalam genggaman tangan kuningnya.
            “Nama kalian siapa?”,tanya Gege.
            “SpongeBob.”,jawab si spons kuning.
            “Squidward.”,tutur si gurita dengan wajah yang masih kusut.
            “Namaku siapa?”,gumam sang bintang laut merah muda, sembari menggaruk-garuk kepala runcingnya.
            “Patrick! Namamu, Patrick.”,bisik SpongeBob.
            “Oh, ya. Patrick. Namaku Patrick.”,ucap Patrick, dengan polosnya. “Patrick itu siapa? Siapa Patrick?”,lanjutnya. Tingkah bodoh Patrick, semakin membuat Squidward mendidih. Gege hanya tertawa, dan Dede’ mengikuti kebodohannya.
            “Untuk apa kalian kesini?”,tanya Squidward.
            “Berburu ubur-ubur?”,lanjut SpongeBob.
            “Diam, kau bodoh!”,teriak Squidward.
            “Kami mencari tempat ini.”,jawab Gege memperlihatkan peta penjelajahan mereka. Dede’ tak berkomentar. Dia sibuk berburu ubur-ubur dengan si Bintang laut merah muda itu. Tawa mereka lepas di dalam laut yang dalam itu, sementara Squidward masih kesal karena minggunya berakhir tanpa istirahat baginya.
            “Kami tidak tahu.”,jawab Squidward.
            “Mau berburu ubur-ubur?”tanya SpongeBob,ramah.
            “Tidak. Kami harus mencari tempat ini.”,tutur Gege’. “Terima kasih, dan lain kali, cobalah akur. Orang pintar takkan ada, tanpa orang bodoh, Squidward.”,lanjut Gege, sembari menarik tangan adiknya, Dede’ yang sibuk bermain dengan ubur-ubur dan juga Patrick.
            “Cobalah ke Konohagakure. Mungkin tempat itu ada disana.”,teriak SpongeBob, setelah melihat langkah putus asa pasukan gembala kembar itu.
            “Telima kasih.”,teriak Dede’.
            “Tempat apa itu?”,tanya Squidward penasaran dengan nama Konohagakure itu.
            “Aku mengatakan sesuatu? Tahulah, mungkin ladang ubur-ubur”,balas SpongeBob. “Ayo berburu ubur-ubur.”,ajak SpongeBob lagi, dan Squidward menyesal menanyakan kata itu.
            Langkah kaki pasukan gembala kembar berlanjut. Tapak kakinya meninggalkan bekas di atas hamparan pasir luas, kota Konohagakure. Tempat terakhir dari penjelajahannya mencari tempat yang terukir dalam peta itu.
            “Rasengang.”,teriak anak laki-laki berambut kuning itu sembari memukul perut lawannya.
            “Katon: Gokakyu no jutsu.”,balas anak laki-laki tampan berambut hitam itu, sembari menghindar, lalu melempar sebuah suriken.
            “Hentikan!”teriak Dede’ menghentikan perkelahian mereka.
            “Siapa kalian?”,tanya laki-laki berambut kuning.
            “Aku Dede’, adiknya kak Gege.”,ucap Dede’ polos.
            “Mengapa kalian berkelahi?”,tanya Gege’.
           “Aku ingin menghentikannya untuk pergi.”,jawab laki-laki berambut kuning, sembari sesekali air matanya jatuh.
            “Dan aku ingin dia mati, lalu aku mendapatkan mata itu.”,lanjut laki-laki berambut hitam itu, dengan dinginnya. Tak sekalipun dia menolehkan pandangan pada laki-laki berambut kuning yang menatapnya dengan mata sayu.
            “Sasuke, hentikan ucapanmu.”,sela laki-laki berambut kuning itu, sembari mengepal tinjunya, yang juga ia gunakan menghapus air matanya.
            “Jangan bodoh, Naruto. Kau juga sangat membenciku, bukan?”,ungkap laki-laki yang dipanggil Sasuke itu. “Bunuh aku sekarang juga!”,lanjutnya.
            “Ada apa dengan kalian ini?”,sela Gege. “Kalian ini teman. Mengapa harus seperti ini?”,lanjutnya, prihatin.
            “Bukan begini calanya mengungkapkan kasih sayang.”,potong Dede’. “Kak. Gege selalu melindungiku. Itulah kasih sayang.”,lanjut Dede’. Kalimat yang terlontar dari mulut polos milik Dede’ ini, menyerang batin Naruto ataupun Sasuke. Dengan langkah pelan, Sasuke mendekati Naruto, kemudian memeluknya. Cinta antara keduanya meluap, yang sedari tertimbun dibalik perkelahian mereka. Hadirnya Gege dan Dede’, memiliki makna bagi dua teman itu.
            “Hentikan sinetron kalian!”,canda Gege’.
            “Kalian tahu tempat ini?”,lanjut Dede’.
            “Lembah kasih sayang?”,ucap Naruto, yang membaca tulisan dari kertas dalam genggaman Dede’. Lembah kasih sayang. Tempat yang dicari oleh pasukan gembala kembar itu. Namun, yang tertera di atas selembar kertas itu bukanlah peta. Tetapi, hurup yang berurutkan LEMBAH KASIH SAYANG.
            “Iya.”,senyum kakak beradik itu, memperlihatkan gigi susu mereka yang mulai berkarat.
http://img4.wikia.nocookie.net/__cb20140623055604/naruto/id/images/c/c2/Young_sasuke_and_Naruto.png   
“Ini bukan lembah kasih sayang. Tapi lembah kematian.”,jelas Sasuke menunjuk tempat mereka berpijak sekarang. “Lembah kasih sayang itu ada disini.”,lanjutnya merangkul Naruto, kemudian menunjuk dadanya. Bukan dada. Tetapi sesuatu yang terdapat dalam rongga dada itu. Apalagi, kalau bukan hati, atau jantung. Tempat berdiamnya lembah kasih sayang yang dicari pasukan gembala kembar itu. Kedua teman, dan pasukan gembala kembar itu tertawa. Emosi, kebencian, dan cinta yang tulus bernama kasih sayang itu meleleh diantaranya. Namun, apakah lembah kasih sayang yang sebenarnya telah di temukan oleh mereka?
***
  “Apa yang kalian lakukan?”,rasa penasaranku berbuah lebat, ketika tiga jam berlalu, dan dua balita kembarku itu masih terbahak.
              “Kakak tidak usah tahu!”,teriak si kakak.
              “Lahasia.”,ikut si bungsu.
              “Lahasia,lahasia. Rahasia tahu.”,cibirku mendengar adik bungsuku yang cadel. Namun sebenarnya bukan karena itu. Tetapi karena mereka menyembunyikan sesuatu dariku, dan aku kesal karenanya. “Ya, sudah.”,lanjutku.
“Di lembah kasih sayang itu ada dua wanita cantik.”,tutur Gege menjelaskan pada Dede’ tentang sebuah lembah kasih sayang.
“ Lembah kasih sayang? Dasar!”,batinku. Kusadar telingaku telah berada diantara kisah rekayasa kedua adikku.
“Mengapa harus sapi?”,tanya Dede
“Karena kau takut kuda. Jadi kita tak mungkin membuat pasukan berkuda.”
“Oh, iya. Aku lupa. Lalu Lembah kasih sayangnya sepelti apa?”
“Tanah lapang yang luas. Di langit-langitnya dipenuhi laying-layang. Tanahnya juga subuh. Di sekeliling lapangan tumbuh pohon roti dan lollipop. Sapi-sapi kita gendut karena memakan pohon-pohon roti itu.”
“Sapi makan loti?”
“Jadi kau ingin makan rumput?”
“Tidak. tidak. Ote. Sapinya yang makan loti.”,gumam si bungu jijik, membayangkan dirinya makan rumput.
“Anak-anak nakal itu pasti mengkhayal.”,batinku, tertawa.
Tiga jam selanjutnya berlalu, bagai satu menit. Suara riuh milik adik-adikku mereda. Kucoba melihat mereka, dan keduanya telentang dengan lelap di depan televisi dan juga laptop yang menyala. Kuperhatikan sekeliling mereka. Berantakan. Artinya sebuah pekerjaan untukku. Itulah sulitnya jadi sulung untuk dua balita kembar yang nakal. Jejemari, dan wajah mereka juga berantakan dipenuhi spidol dan krayon. Ada gambar aneka kartun. Dari tom and jerry, SpongeBob, dan juga kartun yang juga favoritku, yaitu Naruto. Lebih tepatnya aku yang memperkenalkan kartun itu pada dua malaikat kecilku.
Wajah polos disaat mereka terjaga juga terlelap membuatku merasa iri. Perasaan damai tanpa tekanan dimilikinya, sungguh membuatku juga menginginkannya, ketimbang bebanku tumbuh dewasa. Menatap jalanku dan juga jalan mereka yang berbeda, membuat bulu kudukku berdiri. Cerita orang-orang dewasa tentang dulu dan sekarang yang berbeda, membuatku takut untuk mengangkat kaki. Dunia yang kuinjak dulu dan sekarang tak lagi sama. Kadang aku berpikir apakah ini masih dunia yang sama? Orang yang berlalu-lalang pun berbeda. Hidupku kupertaruhkan dengan beberapa pilihan, yang entah?
“Dede’ tidak bodoh. Orang dewasa yang bodoh itu menganggap Dede’ bodoh.”,ucap Dede’. Dia mengigau, sungguh lucu. Tak kebayang bagaimana mereka saat tumbuh dewasa?
“Dua wanita cantik yang ada di lembah kasih sayang itu, Ibu dan Kakak.”

 (30/09/2014/Tulipungu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar