Jumat, 03 Oktober 2014

CERPEN : SUARA KEMATIAN


Duduk disebuah kursi roda, menatap jauh ke arah yang tidak memiliki batas. Berharap waktu akan berputar mundur, hingga aku berada pada  posisi, dimana kisah itu belum di mulai. Lalu memilih kisah lain, yang dapat menjauhkan diriku dari kisah yang telah membuatku seperti ini.



Meski sekarang semuanya telah berakhir, masih teringat jelas jejak-jejak yang dipenuhi ketidaktahuan dan telah aku lewati sebelumnya. Ku lewati dengan rasa yang tidak pernah kualami, yang hampir menghancurkan diriku dan telah menghancurkan hidupku.
Lama terdiam, membuat ku kembali menelusuri jejak-jejak itu. Jejak yang bagaikan noda oleh sebuah rayap pada dinding sebuah kamar. Pada awalnya hanya sebuah rayap. Tapi menimbulkan noda yang bahkan lebih besar dari pada rayap itu. Sehingga membutuhkan kertas dinding untuk menutupi noda itu.  Itulah MY LIFE.
Kisahku dimulai saat aku memutuskan liburanku,  di Villa yang terletak di sebuah desa kecil dan damai di kota Bern, Swiss. Villa yang bernuasa istana dalam dongeng nanmewah. Membuat mata disilaukan akan keindahannya layaknya sebuah permata. Villa yang memiliki 3 lantai, berwarna putih yang tampak indah, dan memiliki 12 ruangan (3 WC, 1 gudang,  8 kamar) dalam tiap lantainya (tidak terhitung dapur dan ruang utama pada lantai bawah) ini, tampak sepi, tapi terlihat begitu nyaman. Villa yang selalu tampak bersih ini, dirawat oleh seorang wanita tua yang berumur sekitar 67 tahun, bernama Isabella Th yang tampak masih sangat kuat dan merupakan seorang pekerja keras.
“Villa ini, akan menjadi tempat yang tepat untuk aku melukis keindahan salah satu desa di Kota Bern ini.”kata seorang gadis berumur 17 tahun, yang bernama Dea Ch. “Kau salah. Villa ini akan menjadikan ku Photographer terhebat didunia.”balas Carol Robbinson, teman seumuran Dea Ch. “Tidak ku sangka ternyata Swiss jauh lebih indah dari pada New York.”kata Jason William kagum, yang juga merupakan teman Dea Ch.
( April 1-2012 at 23.30 p.m. ) “Kematian akan dimulai. Darah akan kembali mengotori lantai sebuah istana. Aku atau kamu. Kamu atau dia. Dia atau mereka. Siapa pun itu, akan merasakan dinginnya pisau seorang pembunuh yang haus darah. Sama seperti yang telah aku alami. Sekuat tenaga pun kau berlari. Kau akan tetap menjumpainya. Cause, that is your live.” Kata seseorang dalam mimpi Dea Ch.
( April 2-2012 at 23.00 p.m ) “Help me ! Please.. Help me..!”Mimpi kedua Dea Ch. Dalam mimpi itu, terdapat seorang wanita seumuran Dea Ch dengan pisau yang tertancap didada nya, menggenggam tangan Dea Ch. Tapi saat Dea Ch ingin melepaskan pisau itu, bayangan dalam mimpi itu menghilang dan Dea Ch akan terbangun dari tidurnya.
( April 3-2012 at 08.00 a.m , waktu sarapan ) “Guys... Mimpi yang kemarin datang lagi. Hanya saja malam ini, kalimat yang di ucapkan orang itu berbeda.”Kata Dea Ch sambil mengaduk makanannya, tanpa mencicipinya sesuap pun.
“Tenang Dea Ch. Itu Cuma bunga tidur ajah kok.”kata Alice Paul, teman Dea Ch yang berumur 2 tahun lebih tua dari Dea Ch. “Kalau kau terus saja seperti itu, lama-lama kau juga yang akan sakit.”lanjut Alice Paul. “Liburan kita nanti juga akan kacau jika kamu sakit.”lanjut Arbert Paul, kakak Alice Paul yang berumur 1 tahun lebih tua dari Alice Paul. “Bukankah kau ingin melukis keindahan Kota Bern dari Villa ini? Jadikan ajahh mimpi mu itu, sebagai object nya.”lanjut Arbert Paul. “Kita bahkan menempatkan mu di Tower (*tower adalah sebuah kamar di lantai 3, yang merupakan ruangan yang paling indah dalam Villa.) untuk itu. Andai aku yang tinggal di Tower, pasti aku sudah mengabadikan banyak photo.”kata Carol Robbinson. “Bagaimana kalau kita tukar ajahh?”lanjut Carol Robbinson. “Enak saja. Selama liburan kita, kamar itu adalah milikku.”jawab Dea Ch sambil mulai mengunyah makanannya.
“Aku selesai.”kata Jason William seraya berdiri meninggalkan meja makan. “Apakah ada yang ingin ke Danau? Yang berada dalam hutan dekat Villa ini?”lanjut Jason William. “Aku mau banget.”jawab Carol Robbinson mengikuti Jason William. “Sepertinya semua sudah selesai makan. Kecuali Dea Ch.”lanjut Carol Robbinson dengan tatapan sinis pada Dea Ch. “Apakah kalian benar-benar akan meninggalkan ku sendiri di Villa?”tanya Dea Ch dengan nasi yang masih berada dalam mulutnya. “Kau tidak sendiri darling, ada dua orang yang menemani mu.”bisik Arbert Paul. “Wanita dalam mimpi mu dan Isabella Th yang menakutkan itu.”ejek Arbert Paul. “Ahhh.”kata Dea Ch kaget. “Jangan takut. Dia hanya berusaha menakut-nakuti mu.”kata Alice Paul. “Kau harus menghabiskan sarapan mu. Dia telah menghabiskan banyak waktunya untuk itu.”lanjut Alice Paul lalu berlari mengikuti yang lain, seraya say bye kepada Dea Ch.
( April 3-2012 at 11.00 a.m, In the Tower ) *Dea Ch duduk menggambar pemandangan yang di lihatnya dengan ketinggian 3 tingkat dari dalam Tower melalui jendela Tower.* “Hi, Dea Ch. Nama kamu Dea Ch kan?”lalu terdengar suara di dalam Tower, entah berasal dari mana.
“Siapa itu? Apakah kau berada didalam kamarku?”tanya Dea Ch seraya mencari asal suara, dengan nada ketakutan yang kental. “Oh iyahh. Aku belum memperkenalkan diriku. Hi, Namaku Dea Th.”balas suara itu. “Lebih tepatnya nama kita sama. Hanya marga yang membedakan.”lanjut Dea Th. “Kalau begitu... perlihatkan diri mu !”kata Dea Ch seraya memegang kuas, sebagai senjatanya dan melihat sekeliling Tower. “Aku berada di dalam diri mu.”jawab Dea Th. “Jika kau ingin melihat ku, coba tutup matamu. Lalu tancapkan kuas yang kau pegang itu pada papan lukisan mu. Setelah itu gerakkan tanganmu, sebagaimana yang kau lihat setelah kau menutup mu. Itulah aku.”lanjut Dea Th dan setelah itu, suara Dea Th menghilang. Sehingga membuat Dea Ch penasaran dan mecobanya. Dan alhasilnya gambar yang di lukisnya dengan mata tertutup menghasilkan seorang gadis cantik dengan gaun yang bagaikan seorang putri.
“Siapa itu?”tanya Albert yang tiba-tiba memasuki kamar Dea Ch. “Dia adalah Dea Th”jawab Dea Ch dengan ekspresi datar. “Mengapa kau tiba-tiba aneh seperti itu? Kau seperti bukan Dea Ch yang ku kenal.”balas Arbert Paul yang mulai ketakutan. “Ha ha ha.”Dea Ch yang tertawa puas dengan perubahan wajah Albert. “Dia cantik kan? Ini adalah wajah ku.”lanjut Dea Ch. “Hahh?”jawab Arbert Paul, tidak percaya. “Tidak. Aku bercanda.”balas Dea Ch. “Ternyata Arbert Paul adalah orang yang paling mudah di bohongi.”lanjut Dea Ch seraya tertawa puas.
 ( April 3-2012 at 19.00 p.m, dalam kamar Alice Paul. Kamar 04 di lantai 1 ) “Mau ke satu tempat yang menarik?”tanya Dea Ch seraya berdiri. “Kalau mau sihh, follow me.”lanjut Dea Ch sambil beranjak keluar kamar Alice Paul. “Aku ikut dehh.”jawab Carol Robbinson, yang kemudian di ikuti oleh yang lain.
( April 3-2012 at 19.15 p.m, ruang bawah tanah.) “Dea Ch, tempat apa ini?”tanya Jason William dengan suara takut yang jelas. “Ini adalah tempat seseorang di bunuh 2 tahun yang lalu.”jawab Dea Ch dengan kata yang santai atau tanpa takut. “Apa...?”tanya Carol Robbinson. “Udahh diam..! bantu aku nyari apa saja yang dapat membantuku menemukan seorang tersangka.”perintah Dea Ch tanpa menjawab pertanyaan Carol Robbinson.
( April 3-2012 at 23.30 p.m ) “Apa gunanya sihh, ngotak-atik ruang bawah tanah?”kata Carol Robbinson dengan nafas yang terengah-engah. “Dan dimana juga kau tahu tentang pembunuhan?”lanjut Carol Robbinson. “Dea Ch. Kau benar-benar aneh hari ini.”balas Alice Paul. “Apakah mimpi mu yang membuat kau seperti ini?”lanjut Alice Paul. “Aku hanya bermain-main saja.”jawab Dea Ch. “Bukan kah ini sangat menarik?”lanjut Dea Ch tanpa rasa bersalah. “Aishh...! Rasakan pembalasanku.”kata Jason William sambil menggelitik Dea Ch. “Ayo.. bantu aku.”ajak Jason William pada yang lain. Alhasil semua menggelitik Dea Ch. “Sudah..! aku bilang..”kata Dea Ch, kemudian di potong oleh...  
“Ini sedikit cemilan. Aku lihat kalian semua berkeringat. Mungkin dapat membantu.”potong Isabella Th sambil menawarkan beberapa cemilan dan minuman. “Thanks.”balas Alice Paul. “Tunggu.”kata Dea Ch. “Apakah kalung ini milik kamu?”tanya Dea Ch pada Isabella Th. *kalung yang ditemukan di ruang bawah tanah.* “Ya. Itu milik saya.”jawab Isabella Th gugup. “Beberapa waktu yang lalu aku menghilangkan nya. Terima kasih karna telah menemukannya.”lanjut Isabella Th seraya mengambil kalung itu dari Dea Ch, lalu menuju ke dapur.
(April 4-2012 at 02.00 a.m) Terdengar suara hentakan kaki dari lantai 2 menuju ke lantai 3. “Suara apa itu?”kata Carol Robbinson seraya menuju kamar Alice Paul yang berada di samping kamarnya. Lalu membangunkannya. “Alice. Alice... Alice Paul.. Bangun ! Aku mendengar sesuatu yang aneh dari atas. Perasaanku juga sangat buruk. Takut ada apa-apa dengan Dea Ch. Alice. Aku bilang bangun.. Hei. Bangun.”bisik Carol Robbinson di depan pintu kamar Alice Paul, seraya mengetuk pintu.
“Ada apa sihh? Sibuk banget ganggu orang tidur.”jawab Alice Paul seraya membuka pintu dengan omelan yang khas. Lalu Carol Robbinson menutup mulut Alice Paul, dan masuk ke dalam kamar Alice Paul. “Coba dengar suara itu ! Seperti suara orang yang mengendap-endap di lantai 2 kan?”lanjut  Carol Robbinson. “Tidak juga.”jawab Alice Paul yang masih mengatuk. “Coba dengar!”desak Carol Robbinson. “Iya... seperti suara orang yang mengendap-endap di lantai 2.”jawab Alice Paul. “Dari tadi aku juga bilang gitu.”balas Carol Robbinson. “Sekarang kau hubungi Jason William, Arbert Paul, dan Dea Ch. Soalnya handphone ku ketinggalan di kamarku !”lanjut Carol Robbinson. “Iya...”jawab Alice Paul.
(April 4-2012 at 02.30 a.m, mencari asal suara langkah kaki.) Handphone Dea Ch tidak dapat di hubungi. Oleh karna itu, Arbert Paul, Alice Paul, Jason William, dan Carol Robbinson, membagi dirinya untuk itu. Arbert Paul dan Carol Robbinson berusaha untuku menemukan suara hentakan kaki itu di lantai 2, sedangkan Alice Paul dan Jason William berusaha untuk menghubungi dan menemui Dea Ch di lantai 3, dan tentunya harus melewati lantai 2 yang cukup luas. Di perjalanan, Ar-Rol menemukan sesuatu yang aneh....
“Ahhh.”teriak Carol Robbinson, Arbert Paul langsung menutup mulut Carol Robbinson dan bersembunyi di salah satu kamar pada lantai 2. “Jangan ribut.”perintah Arbert Paul kepada Carol Robbinson. “Tapi dia.. tadi itu... Dia... Dia.. memakan.. Dia memakan manusia.”jawab Carol Robbinson yang gugup salah tingkah seraya berputar-putar memegang kepala. “Kita harus cari tahu, siapa orang yang di makan Cannibal itu. Yahh harus.”lanjut Carol Robbinson seraya ingin keluar dari kamar itu, tapi dihalangi oleh Arbert Paul. “Kau ingin kita yang di makan selanjutnya?”balas Arbert Paul. “Jangan gegabah ! Kita harus punya rencana.”lanjut Arbert Paul. “Bagaimana bila korban itu, teman kita.”tanya Carol Robbinson. “Tidak. Tadi aku melihat semuanya dengan jelas.”balas Arbert Paul dengan wajah yang juga ketakutan. “Siapa?”tanya Carol Robbinson. “Kau tahu penjaga Villa ini?”tanya Arbert Paul. “Isabella Th?”jawab Carol Robbinson. “Bukan. Yang menemani kita ke danau tempo yang lalu? Ehmm. Yahh namanya Rizard. Dia korban yang di makan Cannibal tadi.”balas Arbert Paul dengan yakin. “Kalau Cannibalnya? Kau tahu?”lanjut Carol Robbinson ingin tahu. “Tidak. Aku tidak yakin.”jawab Arbert Paul. Lalu tiba-tiba... ada seeorang yang mengetuk-ngetuk pintu kamar, tempat Arbert Paul dan Carol Robbinson bersembunyi. Dia adalah...
Di tempat yang lain, Ali-Son telah berada di tangga lantai 2 menuju lantai 3. Namun tiba-tiba ada seorang wanita dengan gaun yang lengkap, berjalan dari lantai 3 menuju lantai 2. Sehingga Ali-Son tidak melanjutkan langkah kakinya menuju lantai 3, melainkan bersembunyi di salah satu sisi dari lantai 2.
“Apakah ada penghuni lain selain kita di Villa ini?”tanya Alice Paul. “Entahlah? Aku juga baru melihatnya.”jawab Jason William. “Kau lihat tadi pakaiannya? Zaman sekarang pakai gaun, KUNO.”lanjut Jason William yang mulai keluar dari tempat persembunyiannya. “Wanita tadi seperti, seorang putri dari kerajaan Romawi kuno. Atau cuma pemikiranku saja? Ahh... sudahlah.”berjalan mengikuti Jason William. Tapi wanita dengan gaun yang berbeda, selalu menghalangi jalannya. Untuk ke 4 kalinya, mereka tidak bersembunyi lagi. Sementara wanita itu berjalan turun tangga, mereka terus berjalan menaiki tangga. Sehingga di puncak anak tangga, Alice Paul ...
Di luar kamar tempat Ar-Rol bersembunyi, ada seseorang yang sedang mengetuk pintu kamar itu. Orang itu adalah Cannibal yang memakan  Rizard (penjaga luar Villa) beberapa menit yang lalu. Dia adalah ...
“Cepat ambil benda yang dapat membantu kita menutup pintu ini.”perintah Arbert Paul seraya mencoba menahan pintu kamar oleh desakan seorang Cannibal. “Apa?”jawab Carol Robbinson yang tidak tahu ingin mengambil benda apa, pada kamar yang tidak dia ketahui dan dalam situasi kamar yang cukup gelap. “Meja itu. Kau bisa mengangkatnya.”balas Arbert Paul. “Iya. Aku bisa.”jawab Carol Robbinson seraya mengangkat meja menuju Arbert Paul dan berhasil. “Sekarang apalagi?”tanya Carol Robbinson pada Arbert Paul. “Lemari itu. Apakah kau bisa mengangkatnya?”tanya Arbert Paul. “Tidak mungkin. Ini sangat besar.”jawab Carol Robbinson. “Kalau gitu, kau yang kesini dan aku yang mengangkat lemari itu.”lanjut Arbert Paul. “Baiklah.”jawab Carol Robbinson seraya menuju pintu atau bertukaran tempat dengan Arbert Paul. Mengangkat lemari untuk menghalangi Cannibal masuk dari pintu masuk utama, adalah perkiraan yang salah.
“Tunggu.”pekik Carol Robbinson. “Suara desakan pintu tidak adalagi. Apakah mungkin Cannibal itu sudah pergi?”kata Carol Robbinson, menyuruh Arbert Paul berhenti mengangkat lemari itu. “Jangan berani membuka pintu. Bisa saja ini adalah sebuah tipuan.”balas Arbert Paul seraya kembali mengangkat lemari. “Arbert Paul hentikan itu.”perintah Carol Robbinson dengan suara ketakutan yang kental, seperti bertatap muka dengan seorang Cannibal.
Terdapat pintu rahasia dalam kamar itu, namun tertutupi oleh lemari. Sekarang, lemari itu di angkat oleh Arbert Paul sehingga pintu itu dapat terlihat dengan jelas dan pada pintu itu berdiri seorang Cannibal yang telah memegang leher Arbert Paul.
“Ahhh...”kata Arbert Paul yang merasa tercekik. “Hentikan itu.”balas Carol Robbinson dengan rasa takut seraya menendang meja dan mulai membuka pintu. “Tolong. Hentikan itu Isabella Th.”lanjut Carol Robbinson seraya menyebut nama seorang Cannibal. “Pergilah ! aku yang akan melawan nenek tua ini.”kata Arbert Paul mengeluarkan perintah. “Kau diam. Apa yang kau inginkan pada kami? Apa salah kami?”lanjut Carol Robbinson berusaha mengambil perhatian Isabella Th, sehingga Arbert Paul dapat melepaskan diri dari cengkraman jari-jari Isabella Th. “Sebenarnya, yang ingin kubunuh hanya Dea Ch. Tapi kalian semua menghalangi pandanganku. Jadi kalian juga harus mati.”jawab Isabella Th. “Apa salah Dea Ch?”tanya Carol Robbinson lebih lanjut seraya memegang sebuah keramik besar yang tak jauh dari tempat dia berada. “Itu karna dia mirip dengan seseorang yang kubenci.”jawab Isabella Th seraya mencekik leher Arbert Paul lebih keras. “Siapa orang itu?”tanya Carol Robbinson seraya mengangkat keramik itu dan melempar kearah Isabella Th dengan sasaran yang sangat tepat tanpa melukai Arbert Paul. Untuk awal, Arbert Paul berhasil lepas dari cengkaraman Isabella Th. Tapi saat dia berlari, Isabella yang terluka akibat keramik melemparkan pisau miliknya pada Arbert Paul dan pas mengenai punggung Arbert Paul.
“Arbert...”kata Carol Robbinson yang berbalik melihat Arbert Paul. “Jangan kemari. Kau harus lari. Beritahu ini pada yang lain dan pergi dari Villa ini. Jangan sampai nenek tua ini, menemukanmu.”balas Arbert Paul, dan terjatuh akibat pisau itu tertancap sangat dalam. “Maafkan aku, Arbert !”kata Carol Robbinson seraya berlari mencari yang lain.
Di tempat lain, Sementara wanita itu berjalan turun tangga, mereka terus berjalan menaiki tangga. Sehingga di puncak anak tangga, Alice Paul terhalang oleh gaun sang wanita dan terjatuh dari anak tangga. Hingga kembali ke lantai 2. “Alice...”kata Jason William seraya berlari turun tangga dan berharap dia bisa menolong Alice Paul atau Alice Paul tidak terluka parah. Tapi kecepatan Jason William turun tangga, tidak sebanding dengan kecepatan jatuh Alice Paul pada 200 anak tangga dengan kemiringan tangga sebesar  sudut 70 derajat. Di dasar anak tangga...
“Alice... Kau tidak apa-apa?”tanya Jason William seraya memegang kepala Alice Paul yang berdarah. “Tidak. Kau benar-benar apa-apa. Tunggu... bagaimana mungkin pisau ini ada di perut mu? Pisau siapa ini?”lanjut Jason William seraya mencabut pisau dari perut Alice Paul. “Wanita itu. Dia... dia bukan manusia. Dia mengintai kita semua. Dia menginginkan kita semua mati. Kau harus lari. Kau harus menolong yang lain.”kata Alice Paul mengeluarkan perintah. “Apakah wanita itu pelakunya? Dimana dia?”balas Jason William dengan amarah yang membara. “Apakah kau tidak mendengar apa yang kukatakan? Sebentar lagi, dia akan kembali untuk membunuhmu. Jika kau mati, yang lain juga akan mati. Cepat pergi.”perintah Alice Paul untuk kedua kalinya. “Tapi.. aku.. aku harus menyelamatkanmu.”balas Jason William dengan gugup. “Jason. Pisau tadi telah menembus lambungku, darah...akan mengalir keluar dari tubuhku dan semua organ dalam tubuhku lama-kelamaan akan membusuk. Jika itu terjadi dalam beberapa menit aku akan mati dan bila kau tetap disini, kaujuga akan mati. Aku mohon kau harus menyelamatkan yang lain. Terutama kakakku. Bisa kah kau menyelamatkan dia?”terang Alice Paul agar Jason William pergi menyelamatkan dirinya dan yang lain. “Maafkan aku. Alice !”kata Jason William berlari menaiki 200 anak tangga, lalu menuju ke Tower, kamar Dea Ch.
(April 4-2012 at 03.30 a.m, In the Tower.) “Dea Ch...”kata Jason William saat memasuki tower dengan nafas terengah-engah. “Bisakah kau masuk, setelah kau mengetuk pintu kamarku?”jawab Dea Ch seraya melukis dengan kondisi kamar yang cukup gelap. “Siapa suruh kamar tidak di kunci. Padahal kau satu-satunya yang tinggal di lantai 3.”balas Jason William seraya melihat lukisan Dea Ch yang aneh. “Anu...Anuhh... Lukisan apa itu?”tanya Jason William seraya mengomentari lukisan. Padahal tujuan Jason William menemui Dea Ch adalah untuk memberitahu Dea Ch tentang yang terjadi di lantai 2. Tapi tertunda oleh lukisan. “Ini adalah...
Di tempat lain, Carol Robbinson terus berlari dengan di kejar oleh Isabella Th yang siap memakannya seperti yang dia lakukan kepada Rizard atau menancapkan pisau di punggung atau dadanya seperti yang dia lakukan pada Arbert Paul. Namun langkahnya di hentikan oleh...
“Alice...”kata Carol Robbinson. “Apa ini kau? Bangun. Jangan bilang kau juga...”lanjut Carol Robbinson seraya duduk dan mengangkat kepala Alice Paul ke pahanya. “Alice.. Kenapa jadi begini? Seharusnya aku tidak gegabah dan So’tahu. Seharusnya aku tidak mengusulkan semua ini. Maafkan aku, Alice.”kata Carol Robbinson melimpahkan semua kesalahan padanya. “Maafkan aku, Arbert. Maafkan aku, Alice... Hahhhhh.”teriak Carol Robbinson saat memikirkan bahwa karna dia Arbert Paul dan Alice Paul mati. Dia telah membunuh dua orang yang telah seperti kakak baginya. “Lalu Jason... Dea Ch, aku harus memberitahunya.”kata Carol Robbinson seraya berdiri. Namun tiba-tiba punggungnya terasa berat dan sakit, sehingga di terjatuh di dekat Alice Paul. Yahh... Si Cannibal Isabella Th yang telah menancapkan pisau di punggungnya. “Tinggal 2 orang lagi.”kata Isabella Th seraya menaiki tangga yang dinaiki oleh Jason William beberapa menit yang lalu.
Di Tower. “Ini adalah mimpiku. Kematian yang menewaskan penghuni sebuah istana yang megah. Ini adalah penghuni itu, ini darahnya, dan This is a killer.”Terang Dea Ch sambil menunjuk object dalam lukisan itu. “Kalau ini siapa?”tanya Jason William menunjuk sebuah lukisan gadis bergaun yang pernah di lihat Arbert Paul beberapa jam yang lalu, dan telah di temuinya beberapa menit yang lalu. “Namanya Dea Th.”jawab Dea Ch. “Kematian?”tanya Jason William. “Yahh. Ini adalah pembunuh dalam lukisanku.”lanjut Dea Ch. “Apa?”balas Jason William kaget. “Apa kaujuga mudah di bohongi seperti Arbert?”ejek Dea Ch dengan puas. “Aku juga tidak tahu. Yang jelas wanita ini adalah bagian dari diri ku. Aku menggambarnya melalui cermin diriku.”lanjut Dea Ch.  “Jangan berbohong lagi.”balas Jason William seraya memalingkan pandangan ke lukisan yang pertama.
“April 4 at 04.00 a.m ?”kata Jason William melihat tanggal yang tertera pada papan lukisan Dea Ch. “Aku tidak tahu. Kapan aku melukisnya? Itu cuma angkakan?”balas Dea Ch tanpa beban pikiran, jauh berbeda dengan beban pikiran Jason William. “Sekarang April 4, Dea Ch.”kata Jason William. “Lalu, masalahnya?”tanya Dea Ch. “Sekarang pukul berapa?”tanya Jason William. “ At 03.50 a.m”jawab Dea Ch setelah melihat jam tangannya. “Ada apa sihh? Aneh banget.”lanjut Dea Ch bertanya. “Alice mati. Itu karna wanita dalam lukisanmu itu.”jawab Jason William. “Ahhh, jangan bercanda dehh. Aku itu, sudah lelah dengan pikiran kalian tentang mimpi ataupun lukisanku.”kata Dea Ch seraya berdiri lalu duduk di tempat yang lain. “Aku tidak sedang bercanda, Dea Ch. Ini buktinya.”balas Jason William seraya memperlihatkan telapak tangannya yang dipenuhi darah Alice Paul. “Dan intinya kita semua akan mati dalam sepuluh menit terakhir.”lanjut Jason William.
Dea Ch menarik tangan Jason William, lalu menjilatnya. “Apa yang kau lakukan? Kau menjilat darah Alice?”tanya Jason William yang menyaksikan langsung keanehan Dea Ch. “Aku Cuma membuktikan apakah ini asli atau mungkin cuma saus.”jawab Dea Ch. “Apakah kau tidak percaya padaku?”tanya Jason William. “Ayo.. dimana itu terjadi?”tanya Dea Ch seraya beranjak ke tempat kejadian. Namun terlambat...
“Kalian ingin pergi kemana?”tanya Isabella Th yang berdiri di depan pintu dengan memainkan sebuah pisau yang dipenuhi darah Arbert Paul dan Carol Robbinson. “Tinggal kalian berdua.”lanjut Isabella. “Bukankah itu terbalik? Tinggal kau. Aku tidak peduli dengan yang lain. Tapi aku peduli, kalau kau mati.”balas Dea Ch. *Jason William, kaget mendengar Dea Ch yang pandai berbicara seperti itu. Seperti gadis yang berada di dekatnya kini bukanlah Dea Ch yang dia kenal.* “Lalu setelah itu, aku akan terduduk di samping jasadmu dan berkata; kenapa ini harus terjadi? Kenapa bisa aku membunuh anakku. Ehh.. salah. Nanti, yang terdengar bukan kata anak. Tapi ibu.”lanjut Dea Ch yang bukan Dea Ch lagi. Melainkan Dea Th.
Mendengar kata-kata Dea Ch or Dea Th, Isabella menjadi marah dan berlari ingin menancapkan pisau itu di dada Dea Ch, tanpa basa-basi lagi dan menusuknya berkali-kali. Namun salah sasaran. Jason William mendorong Dea Ch dan menggantikan posisi Dea Ch, sehingga yang di tusuk pisau adalah Jason William. “Dasar bodoh! Aku tidak menginginkan kau mati. Tapi itu pilihan mu.”kata Dea Th. “Meskipun kau bukan Dea Ch, tapi tubuh itu milik temanku dan sekarang hanya dia yang dapat ku lindungi. Dengan cara itu aku tidak akan merasa bersalah seumur hidupku.”kata Jason William diakhir nafasnya. Dea Ch mengambil pisau dan gulat pisau dengan Isabella Th. Alhasil, Isabella Th berhasil mengenai kaki kanannya hingga mengeluarkan banyak darah. Tapi pisau Dea Ch terlebih dahulu menusuk Isabella Th berkali-kali. Isabella Th tewas tepat pada APRIL 04-2012 AT 04.00 A.M. Pertempuran pisau selesai. Dea Ch menangis, meratapi dan menyesali atas kematian Arbert Paul, Alice Paul, Carol Robbinson, dan Jason William karna dirinya. Sedangkan Dea Th menghilang.
*****
              Dea Th adalah gadis remaja berumur 18 tahun, anak dari Isabella Th. Dea Th, meninggal 2 tahun yang lalu akibat di bunuh oleh ibunya. Masalahnya seperti yang dialami oleh Dea Ch. Sebuah kesalah pahaman. Yang mengakibatkan seseorang salah pilih.
*****
              *Sejarah Villa* Jutaan tahun yang lalu. Seorang putri dari sebuah Kerajaan Roma-Itali di kucilkan ke sebuah desa di kota Bern, Swiss. Akibat kehamilannya. Putri tersebut bernama Michella. Kehamilan Putri Michella di ketahui setelah berumur 6 bulan. Untuk menahan malu, keluarga kerajaan mengirimnya ke kota Bern, Swiss, dan membuatkannya sebuah istana yang di kenal dengan nama Villa.
              Setelah melahirkan seorang putri, Putri Michella menusuk perut anaknya dengan pisau dan menempatkan anaknya itu di salah satu kamar Villa. Setelah itu, Putri Michella membunuh dirinya, dikamar yang berbeda. Sebelum menancapkan pisau pada perutnya, dia mengucapkan sebuah kutukan. “Siapa pun orang yang hidup menetap atau sementara di istanaku ini. Hidupnya tidak akan pernah tenang dan pada akhirnya dia akan mati. Hingga semua kamar dalam istana ini, diisikan oleh sebuah mayat.”
              Kutukan itulah yang menyebabkan kematian itu. Suara Dea Th yang terdengar dalam mimpi ataupun pada diri Dea Ch, sebenar-benarnya bukanlah Dea Th. Melainkan perwujudan dari kutukan Putri Michella. Lukisan wanita dengan gaun layaknya seorang putri, bukanlah Dea Th melainkan Putri Michella. Kutukan tersebutlah yang menjadi kisah Isabella Th dan Dea Th. Begitupun dengan kisah Dea Ch, Arbert Paul, Alice Paul, Carol Robbinson, dan Jason William.
*****
              Sekarang tidak mungkin lagi aku mengubah itu. Mengubah kisah horror dalam hidupku menjadi kisah romance, yang sering terjadi pada kisah dalam film-film movie yang pernah ku tonton bersama Arbert Paul, Alice Paul, Carol Robbinson, dan Jason William. Yahh... kutukan itu masih terjadi padaku. Rasa bersalah yang sering kali mengembalikanku pada  kisah yang ingin kuhilangkan dari memoriku.
Bahkan aku pernah berpikir untuk mati. Dan mungkin suatu saat nanti, aku akan kembali ke Villa itu. Tertidur pada salah satu kamar yang belum terisi oleh mayat lalu menancapkan sebuah pisau tepat di jantungku. Tertidur bukan untuk sementara, tapi untuk selamanya.
Dengan begitu kutukan pada kisahku akan berakhir. Tapi suatu saat nanti, akan muncul kutukan yang sama pada orang yang berbeda. Hingga tidak ada lagi kamar yang tersisa.
(25/11/2012/TULIPUNGU)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar